Omicron Bergejala Ringan, Ilmuwan Tetap Minta Perketat Prokes

News - Thea Arbar, CNBC Indonesia
19 January 2022 20:37
A petrol attendant stands next to a newspaper headline in Pretoria, South Africa, Saturday, Nov. 27, 2021. As the world grapples with the emergence of the new variant of COVID-19, scientists in South Africa — where omicron was first identified — are scrambling to combat its spread across the country. (AP Photo/Denis Farrell)

Jakarta, CNBC Indonesia - Para ahli penyakit menular memperingatkan bahwa masih terlalu dini bagi masyarakat untuk berhenti menerapkan protokol kesehatan (prokes) untuk menghindari infeksi Covid-19. Sebaliknya, meski gejala virus corona varian Omicron tidak terlalu parah, banyak ilmuwan masih mendesak masyarakat untuk memperketat prokes.

Profesor Liam Smeeth, dokter dan direktur London School of Hygiene and Tropical Medicine, mengatakan pengetahuan ilmiah soal dampak Omicron masih belum lengkap, sehingga masyarakat belum boleh lengah.

"Jika yang rentan menjadi sangat sakit karena Omicron dan itu semua terjadi bersamaan, ini akan mengganggu masyarakat, dan sistem kesehatan mana pun di dunia akan kewalahan," katanya, dikutip dari CNBC International, Rabu (19/1/2022).


Smeeth menambahkan bahwa peningkatan penularan Omicron masih besar, meskipun tampaknya gejalanya lebih ringan dibandingkan varian Delta.

Pejabat kesehatan masyarakat juga telah memperingatkan tentang risiko "long covid". Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya memperkirakan bahwa antara 10% hingga 20% pasien Covid mengalami gejala long covid selama berbulan-bulan setelah terinfeksi. Gejala yang berkepanjangan ini dapat mencakup kelelahan terus-menerus, sesak napas, kabut otak, dan depresi.

Sementara itu, Philip Anyanwu, dosen kesehatan masyarakat di Fakultas Kedokteran Universitas Cardiff, melihat kecenderungan bahwa masyarakat tidak melihat Omicron sebagai sebuah ancaman kesehatan yang serius.

"Meskipun itu (menyebabkan gejala yang lebih ringan), kita masih perlu melakukan langkah-langkah supaya bisa melewatinya, terutama dengan memakai masker, menjaga jarak dan sering mencuci tangan," katanya.

Dia berpendapat terlalu dini bagi masyarakat untuk berhenti menerapkan prokes untuk mengurangi risiko terkait Covid, terutama di musim dingin,  yang merupakan periode paling penting dalam hal beban penyakit menular.

Diketahui kini banyak negara yang sudah tidak memperketat aturan terkait Covid. Contohnya para pemimpin beberapa negara Eropa telah menyerukan krisis virus corona untuk memulai peralihannya dari pandemi ke endemik, dan memperlakukan Omicron seperti flu musiman.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Alert! Sudah 506 Pasien di RI Terpapar Covid-19 Omicron


(hsy/hsy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading