Mau IPO Semester I 2022, Intip Rencana Bisnis PGE ke Depan

News - Wilda Asmarini, CNBC Indonesia
14 January 2022 13:55
PGE berhasil mencatat produksi setara listrik (Electric Volume Produce – Geothermal) sebesar 4.618,27 GWh atau lebih tinggi 14% dari target yang telah ditetapkan tahun 2020 yaitu sebesar 4.044,88 GWh.

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menargetkan salah satu unit usaha PT Pertamina (Persero) di bidang usaha panas bumi (geothermal) yakni PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) akan melantai ke bursa saham Indonesia (Initial Public Offering/ IPO) pada semester I 2022.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Menteri BUMN I Pahala Nugraha Mansury. Pahala menyebut, target dana yang terkumpul dari IPO ini bisa mencapai US$ 400 juta hingga US$ 500 juta atau sekitar Rp 7,15 triliun (asumsi kurs Rp 14.300 per US$).

Dia mengatakan, rencana IPO ini guna mengembangkan bisnis panas bumi, khususnya Pertamina dan Indonesia secara umum. Seperti diketahui, sumber daya panas bumi Indonesia merupakan terbesar kedua di dunia, setelah Amerika Serikat.


Hingga akhir 2020, Amerika Serikat menduduki peringkat nomor wahid untuk sumber daya panas bumi yakni mencapai 30.000 Mega Watt (MW). Sementara Indonesia memiliki sumber daya panas bumi 23.965 MW.

Namun sayangnya, pemanfaatan panas bumi yang dikelola menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Indonesia baru sebesar 2.130,7 Mega Watt (MW) hingga akhir 2020 atau baru sebesar 8,9% dari total sumber daya panas bumi yang ada di Tanah Air.

"Menurut kami geothermal punya potensi untuk dikembangkan. Salah satu caranya yaitu ingin meng-IPO-kan PGE ini agar dana yang terkumpul bisa buat pengembangan geothermal," ucapnya, dikutip Kamis (13/01/2022).

"Insya Allah, IPO PGE ini ditargetkan bisa di semester I 2022, targetnya bisa diregistrasi di Maret, lalu IPO-nya di bulan Juni 2022 mungkin," tuturnya.

Lantas, bagaimana rencana bisnis PGE ke depannya? Apakah rencana IPO ini sejalan dengan bisnis perusahaan ke depannya?

Corporate Secretary PGE Muhammad Baron mengatakan, perusahaan akan fokus pada pengembangan bisnis dan optimalisasi potensi panas bumi sebagai sumber energi hijau di Indonesia.

"PGE fokus terhadap perkembangan bisnis dan optimalisasi potensi panas bumi sebagai sumber energi hijau di Indonesia dan melakukan kajian atas sumber pendanaan untuk pengembangannya," tuturnya kepada CNBC Indonesia, dikutip Jumat (14/01/2022).

Berdasarkan data PGE, kapasitas terpasang PLTP PGE saat ini mencapai 1.877 Mega Watt (MW), terdiri dari yang dikelola bersama dengan perusahaan lain (Joint Operation Contract/ JOC) sebesar 1.205 MW dan 672 MW yang dikelola sendiri oleh PGE. Perusahaan kini mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP).

Pada 2030, berdasarkan rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP), PGE menargetkan kapasitas terpasang PLTP yang dikelola sendiri oleh PGE naik sekitar 920 MW menjadi 1.540 MW dari saat ini 620 MW. Bila digabung dengan JOC, maka artinya total kapasitas terpasang PLTP pada 2030 menjadi 2.745 MW.

Saat ini total kapasitas PLTP di bawah naungan PGE yang mencapai 1.877 MW masih mendominasi pengelolaan PLTP di Indonesia atau mencapai 88% dari total kapasitas terpasang PLTP di Tanah Air.

Sebagai informasi, pemerintah menargetkan tambahan kapasitas PLTP di Indonesia sekitar 3.300 MW hingga 2030 atau naik menjadi sekitar 5.400-an MW di 2030. Dari tambahan 3.300 MW PLTP hingga 2030 tersebut, PGE menyumbang sekitar 920 MW, maka artinya PGE berkontribusi sekitar 28% dari tambahan proyek PLTP hingga 2030.

Pada 2020 PGE merupakan produsen terbesar ketiga panas bumi di Asia. Pada 2025 mendatang, perusahaan menargetkan bisa menjadi perusahaan panas bumi terbesar ketiga di dunia, dan pada 2030 bisa menjadi perusahaan energi hijau kelas dunia alias "World Class Green Energy Company".

Untuk mencapai target tersebut, perusahaan akan terus meningkatkan kapasitas terpasang PLTP. Dari 672 MW PLTP yang dikelola sendiri oleh PGE saat ini, perusahaan menargetkan bisa naik menjadi 975 MW pada 2025, dan kemudian naik lagi menjadi 1.540 MW pada 2030.

Selain akan memanfaatkan panas bumi sebagai sumber energi pembangkit listrik, perusahaan juga akan mendiversifikasikan usahanya "beyond energy", seperti pengembangan hidorgen, agrobisnis, pariwisata geothermal atau "geothermal tourism", ekstraksi silika, pengembangan CO2 methanol di mana akan berperan mengurangi emisi karbon dioksida, dan lainnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kembangkan Pembangkit Panas Bumi Skala Mini, PGE Gandeng BPPT


(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading