Internasional

Bumi Gonjang Ganjing, Korut Ngamuk Ancam Balas Dendam ke AS

News - sef, CNBC Indonesia
14 January 2022 06:10
North Korean leader Kim Jong Un attends a plenary meeting of the Central Committee of the ruling Workers' Party in this photo released on December 28, 2021 by North Korea's Korean Central News Agency (KCNA). KCNA/via REUTERS. ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. REUTERS IS UNABLE TO INDEPENDENTLY VERIFY THIS IMAGE. NO THIRD PARTY SALES. SOUTH KOREA OUT. Foto: via REUTERS/KCNA

Jakarta, CNBC Indonesia - Korea Utara (Korut) mengecam keras sanksi yang diberikan Amerika Serikat (AS) terkait pengembangan rudal hipersoniknya. Pemerintah Kim Jong Un bahkan mengancam pembalasan jika AS terus mengambil sikap konfrontatif.

Juru bicara kementerian luar negeri Korut mengatakan pengembangan senjata adalah hak sah negaranya sebagai bagian dari upayanya untuk memodernisasi kemampuan pertahanan nasional. Korut mengatakan tidak menargetkan negara tertentu atau membahayakan keamanan negara tetangga.




"Tuduhan AS atas penggunaan hak pembelaan diri DPRK (nama resmi Korut) yang sah adalah provokasi yang jelas serta berlogikanya seperti gangster," kata perwakilan pemerintah itu dari kantor berita negara KCNA, dikutip Jumat (14/1/2022).

"Akan ada reaksi lebih kuat dan pasti," ujar pernyataan itu lagi ke AS.

Sebelumnya, AS memberikan sanksi ke enam warga Korut akibat aktivitas rudal hipersonik Rabu. Ini merupakan pertama kalinya, pemerintahan Presiden Joe Biden melakukan hal tersebut sejak memulai pemerintahan.

Diketahui, dalam seminggu ini, Korut telah menembakkan dua rudal hipersonik. Ini menimbulkan kekhawatiran sejumlah negara, termasuk tetangga Korea Selatan (Korsel) dan Jepang.

Warga Korut yang disanksi di antaranya dua berada di Rusia dan empati di China. Ada pula seorang warga dan perusahaan Rusia yang dikenai hukuman serupa.

"Langkah-langkah tersebut bertujuan untuk mencegah kemajuan program Korut dan untuk menghambat upayanya untuk mengembangkan teknologi senjata," tulis Departemen Keuangan AS, dikutip AFP.

Peluncuran rudal balistik Korut berlangsung sejak September. Hal itu melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.

"Peluncuran terbaru Korut adalah bukti lebih lanjut bahwa mereka terus memajukan program-program terlarang meskipun ada seruan masyarakat internasional untuk diplomasi dan denuklirisasi," kata Menteri Keuangan untuk Terorisme dan Intelijen Keuangan Brian Nelson.

Sementara itu, Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price mengatakan Washington tetap berkomitmen untuk melakukan diplomasi dengan Korut. Hingga saat ini upaya Biden untuk membujuk Pyongyang dalam dialog belum membuahkan hasil.

"Apa yang telah kami lihat dalam beberapa hari terakhir ... hanya menggarisbawahi ... jika kita ingin membuat kemajuan, kita perlu terlibat dalam dialog itu," katanya dalam jumpa pers reguler.

Sebelumnya, foto-foto juga diposting di situs web Rodong Sinmun, surat kabar resmi Partai Buruh Korut. Diperlihatkan pula bagaimana Kim Jong Un mengenakan mantel kulit hitam panjang dan menggunakan teropong untuk menyaksikan peluncuran rudal.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading