'Jalan Neraka' Dekat Ibu Kota Rp 2,6 T, Butuh 'Tangan' Jokowi

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
06 January 2022 09:30
Warga Cianjur, Jawa Barat selama berpuluh-puluh tahun harus melewati jalan berbatu dan berlumpur, tak layak disebut sebagai jalan. Kawasan ini padahal hanya 70 km dari pusat kota Bandung ibu kota provinsi dan 200 km dari ibu kota Jakarta.

Jalur Tanggeung - Padasuka/Cipelah, Cianjur sepanjang 33 km saat musim hujan makin sulit dilewati kendaraan roda empat maupun sepeda motor. Jalur ini bak 'neraka' bagi yang melintasinya, sangat licin untuk dilalui sehingga membahayakan pengendara dan penumpang angkutan umum.
Alex salah satu sopir mobil angkutan umum Elf Ciwidey-Padasuka harus berjibaku dua kali sehari melintasi 'jalur neraka' ini. Para sopir dan kernek menggunakan sekam padi untuk menjadi alas ban mobil agar bisa melewati jalan ini.
Negara sudah saatnya hadir di wilayah ini sebab sudah 76 tahun Indonesia merdeka masih ada jalan yang tak layak semacam ini.  Jalur Tanggeung - Padasuka/Cipelah memang sudah masuk dalam program Pemprov Jabar melalui Jalur Tengah Selatan (JTS) tapi masih menunggu realisasi yang tak kunjung datang.

Pemprov Jabar memang  sedang memprioritaskan pembangunan JTS sepanjang 357 km yang melewati kawasan pegunungan dan hutan di Jabar. Proyek ini merupakan perbaikan jalan dan pembangunan jalan baru provinsi yang menghubungkan Sukabumi bagian tengah hingga Ciamis.

Rencananya, pembangunan akan terbagi menjadi beberapa sesi. Sesi pertama akan dibangun Jalan Horisontal Tengah Jawa Barat Selatan yakni dari wilayah Lengkong - Sagaranten (23,20 km), kemudian Sagaranten - Tanggeung (37,55 km), disambung Tanggeung - Padasuka/Cipelah (33,79 km), hingga Padasuka/Cipelah - Rancabali (16,84 km), total fase ini 111,38 km.
Selanjutnya kawasan Ciwidey - Pangalengan (22,12 km), lalu Pangalengan - Cikajang (53,48 km), disambung Cikajang - Bantarkalong (68,54 km), kemudian Bantarkalong - Kertahayu (101,48 km), hingga total sepanjang 245,62 km.(CNBC Indonesia/ Suhendra)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kawasan di lokasi 'Jalan Neraka' di dekat ibu kota ternyata sudah menjadi perhatian Presiden Jokowi. Bahkan Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan sejak awal mendukung pembangunan kawasan ini.

Kini, pekerjaan rumahnya adalah hanya butuh eksekusi di lapangan dari rencana yang sudah disiapkan dan gelontoran anggaran dari Pemprov Jabar dan pemerintah pusat sekitar Rp 2,7 triliun.

Sempat viral soal kondisi jalan di Desa Tanggeung-Padasuka-Mekarmukti di Kecamatan Cibinong, Cianjur, Jawa Barat Bagian Selatan yang sangat memprihatinkan tak pernah tersentuh pembangunan sejak Indonesia merdeka. Kawasan ini lokasinya hanya 70 km dari pusat kota Bandung, dan 200 km dari ibu kota negara, Jakarta.


Warga di sana harus tersiksa setiap hari saat melewati jalan berbatu dan berlumpur yang sangat licin terlebih saat musim hujan seperti sekarang. Kondisi ini sangat menyiksa bak 'neraka' dan sangat berbahaya bagi keselamatan.

'Jalan neraka' memang sudah jadi perhatian pemerintah melalui proyek Jalur Tengah Selatan (JTS) untuk mendukung konektivitas provinsi Jawa Barat bagian selatan dengan total panjang 350 Km. Jalur Tanggeung-Padasuka-Mekarmukti 33 km hanya bagian dari rencana JTS Pemprov Jabar.

Presiden Jokowi sudah menandatangani Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2021 dalam Percepatan Pembangunan Kawasan Rebana dan Kawasan Jawa Barat Bagian Selatan, pada 9 September 2021.

Warga Cianjur, Jawa Barat selama berpuluh-puluh tahun harus melewati jalan berbatu dan berlumpur, tak layak disebut sebagai jalan. Kawasan ini padahal hanya 70 km dari pusat kota Bandung ibu kota provinsi dan 200 km dari ibu kota Jakarta.Jalur Tanggeung - Padasuka/Cipelah, Cianjur sepanjang 33 km saat musim hujan makin sulit dilewati kendaraan roda empat maupun sepeda motor. Jalur ini bak 'neraka' bagi yang melintasinya, sangat licin untuk dilalui sehingga membahayakan pengendara dan penumpang angkutan umum.Alex salah satu sopir mobil angkutan umum Elf Ciwidey-Padasuka harus berjibaku dua kali sehari melintasi 'jalur neraka' ini. Para sopir dan kernek menggunakan sekam padi untuk menjadi alas ban mobil agar bisa melewati jalan ini.Negara sudah saatnya hadir di wilayah ini sebab sudah 76 tahun Indonesia merdeka masih ada jalan yang tak layak semacam ini.  Jalur Tanggeung - Padasuka/Cipelah memang sudah masuk dalam program Pemprov Jabar melalui Jalur Tengah Selatan (JTS) tapi masih menunggu realisasi yang tak kunjung datang.Pemprov Jabar memang  sedang memprioritaskan pembangunan JTS sepanjang 357 km yang melewati kawasan pegunungan dan hutan di Jabar. Proyek ini merupakan perbaikan jalan dan pembangunan jalan baru provinsi yang menghubungkan Sukabumi bagian tengah hingga Ciamis.Rencananya, pembangunan akan terbagi menjadi beberapa sesi. Sesi pertama akan dibangun Jalan Horisontal Tengah Jawa Barat Selatan yakni dari wilayah Lengkong - Sagaranten (23,20 km), kemudian Sagaranten - Tanggeung (37,55 km), disambung Tanggeung - Padasuka/Cipelah (33,79 km), hingga Padasuka/Cipelah - Rancabali (16,84 km), total fase ini 111,38 km.Selanjutnya kawasan Ciwidey - Pangalengan (22,12 km), lalu Pangalengan - Cikajang (53,48 km), disambung Cikajang - Bantarkalong (68,54 km), kemudian Bantarkalong - Kertahayu (101,48 km), hingga total sepanjang 245,62 km.(CNBC Indonesia/ Suhendra)Foto: Kondisi Jalanan Jalur Tanggeung - Padasuka/Cipelah, Cianjur, Jawa Barat yang Rusak (CNBC Indonesia/ Suhendra)

Adapun anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan jalur ini sangat besar dan sulit untuk dibiayai oleh anggaran pemerintah daerah. Dari perpres itu nilai investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan JTS segmen barat yang melewati kabupaten Sukabumi, Cianjur dan Bandung, mencapai Rp 931 miliar yang bersumber dari APBN dan APBD.

Sementara pembangunan JTS segmen timur yang melewati Kabupaten Bandung, Garut, Tasikmalaya, Pangandaran dan Ciamis, mencapai Rp 1,74 triliun yang bersumber dari dana APBN dan APBD. Artinya total dana yang dibutuhkan untuk proyek ini sampai tuntas adalah hampir Rp 2,6 triliun.

Luhut Setuju

Pada pertengahan Februari 2021, pemerintah pusat sempat mulai membahas rencana pembangunan jalan ini, bagian dari pengembangan wilayah di Provinsi Jawa Barat dan permohonan realisasi janji Presiden Jokowi terkait pembangunan infrastruktur di Jawa Barat.

Hal ini dibahas bersama oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, 16 Februari 2021 lalu.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat sempat mengusulkan lima pembangunan, antara lain pengembangan kawasan Cirebon, Patimban dan Kertajati, termasuk pengembangan Jabar Selatan. 

Wilayah Jabar Selatan dengan jumlah penduduk 3.771.154 dan luas wilayah 10.059 kilometer persegi (28,36% dari total luas wilayah Jabar) memang butuh sentuhan pembangunan

Pada kawasan ini akan dibangun segmen Jalur Tengah Selatan (JTS) yang meliputi daerah Bagbagan, Kiaradua, Lengkong, Sagaranten, Tanggeung, Ciwidey, Pangalengan, Cikajang, Bantar Kalong, dan Kerta Rahayu. Pembangunan jalan ini dibangun sekitar 350 km, termasuk melintasi 'Jalan Neraka' di Tanggeung-Padasuka/Cipelah, Cianjur-Bandung

"Jabar Selatan ini memang perlu lebih banyak intervensi pemerintah. Jalan ini bagus sekali untuk tahap awal," kata Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) Sofyan Djalil usai rapat bersama.

Proyek JTS juga menjadi perhatian dari Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan. Luhut termasuk yang setuju segera pembangunan proyek ini.

"JTS menjadi sangat kritis menurut saya karena bergerak di enam sektor krusial, yaitu transportasi, pengairan dan irigasi, air minum dan sanitasi, pariwisata dan ekonomi, penanganan bencana serta kelautan dan perikanan," kata Luhut.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan Jabar Selatan perlu menjadi perhatian agar wilayah tersebut memperoleh keadilan infrastruktur dan tidak tertinggal secara akses dan fasilitas dibandingkan wilayah lain di provinsi ini.

"Apalagi Jabar Selatan memiliki potensi pariwisata yang tinggi," kata Ridwan Kamil.

Pemprov Jabar Lakukan Apa?

Kepala Dinas Bina Marga dan Tata Ruang Provinsi Jabar Bambang Tirtoyuliono, menjelaskan rencana pembangunan JTS masih jalan, dan pembangunan terus dikejar karena termasuk dalam proyek strategis Jawa Barat.

Rencana trase sudah ada dari FS (Feasibility Study). Sekarang ini sedang dibuat dokumen lingkungan dan persiapan skema pembiayaan proyek ini karena uang APBD Jabar terbatas.

"Kami mencoba menghitung alternatif. Biayanya tinggi banget karena jalannya panjang 300 kilometer sekian, jadi memang mesti dilebarkan dan ada pembebasan tanah, juga ada yang masuk kawasan hutan, nah ini kita coba detilkan," jelasnya kepada CNBC Indonesia, Rabu (5/1/2022).

Bambang belum bisa membeberkan kapan pastinya proyek JTS ini akan segera dibangun. Namun, kabar baiknya ditargetkan dapat dilakukan pada 2022 ini.

"Semua itu kita hitung dulu, nggak lama lagi bisa kita sampaikan," jelas Bambang.

[Gambas:Video CNBC]




(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading