Ya Ampun! Udah 2022 Masih Ada 'Jalan Neraka' di Dekat Jakarta

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
06 January 2022 08:15
Warga Cianjur, Jawa Barat selama berpuluh-puluh tahun harus melewati jalan berbatu dan berlumpur, tak layak disebut sebagai jalan. Kawasan ini padahal hanya 70 km dari pusat kota Bandung ibu kota provinsi dan 200 km dari ibu kota Jakarta.

Jalur Tanggeung - Padasuka/Cipelah, Cianjur sepanjang 33 km saat musim hujan makin sulit dilewati kendaraan roda empat maupun sepeda motor. Jalur ini bak 'neraka' bagi yang melintasinya, sangat licin untuk dilalui sehingga membahayakan pengendara dan penumpang angkutan umum.
Alex salah satu sopir mobil angkutan umum Elf Ciwidey-Padasuka harus berjibaku dua kali sehari melintasi 'jalur neraka' ini. Para sopir dan kernek menggunakan sekam padi untuk menjadi alas ban mobil agar bisa melewati jalan ini.
Negara sudah saatnya hadir di wilayah ini sebab sudah 76 tahun Indonesia merdeka masih ada jalan yang tak layak semacam ini.  Jalur Tanggeung - Padasuka/Cipelah memang sudah masuk dalam program Pemprov Jabar melalui Jalur Tengah Selatan (JTS) tapi masih menunggu realisasi yang tak kunjung datang.

Pemprov Jabar memang  sedang memprioritaskan pembangunan JTS sepanjang 357 km yang melewati kawasan pegunungan dan hutan di Jabar. Proyek ini merupakan perbaikan jalan dan pembangunan jalan baru provinsi yang menghubungkan Sukabumi bagian tengah hingga Ciamis.

Rencananya, pembangunan akan terbagi menjadi beberapa sesi. Sesi pertama akan dibangun Jalan Horisontal Tengah Jawa Barat Selatan yakni dari wilayah Lengkong - Sagaranten (23,20 km), kemudian Sagaranten - Tanggeung (37,55 km), disambung Tanggeung - Padasuka/Cipelah (33,79 km), hingga Padasuka/Cipelah - Rancabali (16,84 km), total fase ini 111,38 km.
Selanjutnya kawasan Ciwidey - Pangalengan (22,12 km), lalu Pangalengan - Cikajang (53,48 km), disambung Cikajang - Bantarkalong (68,54 km), kemudian Bantarkalong - Kertahayu (101,48 km), hingga total sepanjang 245,62 km.(CNBC Indonesia/ Suhendra)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kondisi jalan di Desa Tanggeung-Padasuka-Mekarmukti sejauh 33 km, di Kecamatan Cibinong, Cianjur, Jawa Barat Bagian Selatan sangat memprihatinkan tak pernah tersentuh pembangunan sejak Indonesia merdeka, padahal lokasinya hanya 70 km dari pusat kota Bandung, dan 200 km dari ibu kota negara, Jakarta.

Sehari-hari warga harus berjibaku melewati jalan berbatu dan berlumpur yang sangat licin terlebih saat musim hujan seperti sekarang. Kondisi ini sangat menyiksa bak 'neraka' dan sangat berbahaya bagi siapa saja yang melintasinya. Warga meminta perhatian dari pemerintah pusat maupun daerah agar hadir membangun jalan di wilayahnya.

'Jalan neraka' ternyata sudah termasuk dalam proyek Jalur Tengah Selatan (JTS) untuk mendukung konektivitas provinsi Jawa Barat bagian selatan dengan total panjang 350 Km. Jalur Tanggeung-Padasuka-Mekarmukti hanya bagian kecil dari rencana JTS Pemprov Jabar.


Warga Cianjur, Jawa Barat selama berpuluh-puluh tahun harus melewati jalan berbatu dan berlumpur, tak layak disebut sebagai jalan. Kawasan ini padahal hanya 70 km dari pusat kota Bandung ibu kota provinsi dan 200 km dari ibu kota Jakarta.Jalur Tanggeung - Padasuka/Cipelah, Cianjur sepanjang 33 km saat musim hujan makin sulit dilewati kendaraan roda empat maupun sepeda motor. Jalur ini bak 'neraka' bagi yang melintasinya, sangat licin untuk dilalui sehingga membahayakan pengendara dan penumpang angkutan umum.Alex salah satu sopir mobil angkutan umum Elf Ciwidey-Padasuka harus berjibaku dua kali sehari melintasi 'jalur neraka' ini. Para sopir dan kernek menggunakan sekam padi untuk menjadi alas ban mobil agar bisa melewati jalan ini.Negara sudah saatnya hadir di wilayah ini sebab sudah 76 tahun Indonesia merdeka masih ada jalan yang tak layak semacam ini.  Jalur Tanggeung - Padasuka/Cipelah memang sudah masuk dalam program Pemprov Jabar melalui Jalur Tengah Selatan (JTS) tapi masih menunggu realisasi yang tak kunjung datang.Pemprov Jabar memang  sedang memprioritaskan pembangunan JTS sepanjang 357 km yang melewati kawasan pegunungan dan hutan di Jabar. Proyek ini merupakan perbaikan jalan dan pembangunan jalan baru provinsi yang menghubungkan Sukabumi bagian tengah hingga Ciamis.Rencananya, pembangunan akan terbagi menjadi beberapa sesi. Sesi pertama akan dibangun Jalan Horisontal Tengah Jawa Barat Selatan yakni dari wilayah Lengkong - Sagaranten (23,20 km), kemudian Sagaranten - Tanggeung (37,55 km), disambung Tanggeung - Padasuka/Cipelah (33,79 km), hingga Padasuka/Cipelah - Rancabali (16,84 km), total fase ini 111,38 km.Selanjutnya kawasan Ciwidey - Pangalengan (22,12 km), lalu Pangalengan - Cikajang (53,48 km), disambung Cikajang - Bantarkalong (68,54 km), kemudian Bantarkalong - Kertahayu (101,48 km), hingga total sepanjang 245,62 km.(CNBC Indonesia/ Suhendra)Foto: Kondisi Jalanan Jalur Tanggeung - Padasuka/Cipelah, Cianjur, Jawa Barat yang belum tersentuh pembangunan (CNBC Indonesia/ Suhendra)

Kawasan itu merupakan daerah yang tertinggal dan merupakan kantung-kantung kemiskinan. Banyak warga di sana nekat sebagai pekerja migran, antara lain menjadi TKW di Saudi hingga Hong Kong.

Perhatian khusus di kawasan ini sudah menjadi perhatian pemerintah pusat, yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2021 dalam Percepatan Pembangunan Kawasan Rebana dan Kawasan Jawa Barat Bagian Selatan.

Isunya terjadi ketimpangan pada Jawa Barat bagian selatan, jauh dari pendapatan wilayah lainnya seperti Bekasi, Kota Bandung, dan Kabupaten Bogor. Hal ini yang menjadi ketimpangan wilayah tidak hanya sektor ekonomi juga sosial.

"Jawa Barat Bagian Selatan hanya menghasilkan pendapatan sedikit bahkan tidak sampai 50% dari kota Bandung, Bekasi, Kabupaten Bekasi, dan Kabupaten Bogor," tulis Perpres yang diteken Presiden Jokowi, 9 September 2021.

Dalam perpres itu tertulis tingkat konektivitas kawasan Jawa Barat bagian selatan memang masih rendah. Sehingga butuh pembangunan untuk menumbuhkan ekonomi kawasan.

Dalam konektivitas darat, terdapat potensi pengembangan Jalur Tengah Selatan (JTS) sebagai poros barat - timur yang dapat menghubungkan kota kabupaten di wilayah ini. Juga meningkatkan potensi konektivitas jalur laut, dan bandara perintis di kawasan.

Kapan akan dibangun?

Kepala Dinas Bina Marga dan Tata Ruang Provinsi Jabar Bambang Tirtoyuliono, menjelaskan rencana pembangunan JTS masih berprogres, dan pembangunan terus dikejar karena termasuk dalam proyek strategis Jawa Barat.

Rencana trase sudah ada dari FS (Feasibility Study). Sekarang ini sedang dibuat dokumen lingkungan dan persiapan skema pembiayaan proyek ini karena uang APBD Jabar terbatas.

"Kami mencoba menghitung alternatif. Biayanya tinggi banget karena jalannya panjang 300 kilometer sekian, jadi memang mesti dilebarkan dan ada pembebasan tanah, juga ada yang masuk kawasan hutan, nah ini kita coba detilkan," jelasnya kepada CNBC Indonesia, Rabu (5/1/2022).

Bambang belum bisa membeberkan kapan pastinya proyek JTS ini akan segera dibangun. Namun, kabar baiknya ditargetkan dapat dilakukan pada 2022 ini.

"Semua itu kita hitung dulu, nggak lama lagi bisa kita sampaikan," jelas Bambang.

[Gambas:Video CNBC]




(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading