Internasional

Akhir Tahun 2021 WHO Bawa Kabar Buruk Lagi, Berani Baca?

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
31 December 2021 07:40
The logo of the World Health Organization is seen at the WHO headquarters in Geneva, Switzerland, Thursday, June 11, 2009. The World Health Organization held an emergency swine flu meeting Thursday and was likely to declare the first flu pandemic in 41 years as infections climbed in the United States, Europe, Australia, South America and elsewhere. (AP Photo/Anja Niedringhaus)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia harus bersiap diri, pasalnya Badan Kesehatan Dunia (WHO) kembali memberi peringatan soal gelombang tsunami pandemi Covid-19 gabungan dari kasus varian Omicron dan Delta.

WHO menyebut hal ini sebagai "ancaman kembar" yang mendorong kembali mencatat rekor tertinggi kasus infeksi di berbagai negara. Tentu hal ini menambah tekanan pada sistem kesehatan karena menyebabkan meningkatnya rawat inap dan kematian.


"Saya sangat prihatin bahwa Omicron, yang lebih menular, beredar pada saat yang sama dengan Delta, menyebabkan tsunami kasus," kata Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada konferensi pers, Rabu (29/12/2021) waktu setempat, dikutip Jumat.

"Ini dan akan terus memberikan tekanan besar pada petugas kesehatan yang kelelahan, dan sistem kesehatan di ambang kehancuran," tambahnya.

Tedros bahkan mengatakan bukan hanya pasien yang bisa membuat fasilitas kesehatan tumbang. Sebagian besar tenaga kesehatan juga bisa jatuh sakit terinfeksi Covid-19.

Sebelumnya Dr Shashank Joshi, anggota gugus tugas Covid-19 di Maharashtra, India juga mengatakan fenomena ini dengan istilah "Delmicron". Yakni melonjaknya kasus infeksi akibat varian Delta dan Omicron secara bersamaan di suatu wilayah.

Di sisi lain, WHO sendiri berharap perang terhadap Covid-19 bisa berakhir tahun depan. Namun kesetaraan vaksin, yang menjadi senjata rahasia, tidak maksimal dilakukan.

Diketahui lembaga PBB menargetkan 40% di setiap negara divaksin penuh hingga akhir tahun 2021 dan berlanjut 70% di 2022. Namun data terbaru menunjukkan hal itu meleset. Hingga Desember ini target tak akan tercapai di 92 dari total 194 negara anggota WHO.

"Ini karena kombinasi pasokan terbatas ke negara-negara berpenghasilan rendah yang terjadi hampir sepanjang tahun dan kemudian vaksin berikutnya tiba hampir kadaluarsa. Bahkan, tanpa bagian-bagian penting seperti jarum suntik," kata Tedros.

"Ini bukan hanya rasa malu secara moral, itu merenggut nyawa dan memberi virus kesempatan untuk beredar tanpa terkendali dan bermutasi. Di tahun depan, saya menyerukan para pemimpin pemerintah dan industri untuk membicarakan kesetaraan vaksin ini," imbuhnya.

"Sementara 2021 sulit, saya meminta semua orang membuat resolusi Tahun Baru untuk mendukung kampanye vaksinasi 70% pada pertengahan 2022."

Sebelumnya, AFP melaporkan, dunia telah mencapai rekor jumlah infeksi Covid-19 dalam periode tujuh hari. Pada perhitungan 22-28 Desember, ada rata-rata lebih dari 935.000 kasus infeksi ditemukan.

Angka ini tertinggi sejak virus pertama kali muncul di akhir 2019. Perhitungan dilakukan merujuk jumlah pasien yang diberitakan setiap hari oleh otoritas di masing-masing negara.

Secara total di rentang waktu yang sama, dalam seminggu ada total 6.550.000 kasus yang tercatat. Angka ini mengalahkan rekor total kasus seminggu, yang sebelumnya terjadi 23-29 April, dengan 8.17.000 kasus sehari.

Mengutip Worldometers, kasus Covid-19 dunia saat ini menembus 286.715.867 dengan kematian mencapai 5.445.042, sejak pandemi terjadi akhir 2019 hingga hari ini. Warga yang sembuh sebanyak 253.090.588.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Maaf WHO Bawa Kabar Jelek Lagi Covid-19, Berani Baca?


(tfa)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading