Internasional

Covid AS Meledak Lagi, Tembus 139 Ribu Sehari

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
03 December 2021 16:30
An American flag flutters at the premises of the former United States Consulate General in Jerusalem March 4, 2019. REUTERS/Ammar Awad

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi Covid-19 di Amerika Serikat (AS) saat ini belum menunjukkan tanda-tanda peningkatan yang signifikan. Pada Jumat, (3/12/2021), Negeri Paman Sam mencatatkan rekor infeksi harian tertinggi sejak September.

Mengutip data BNO Newsroom, AS menemukan 139.424 kasus Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Penambahan ini diikuti oleh naiknya angka kematian sebesar 1.317 kasus.


Dengan adanya tambahan ini, AS masih menjadi negara dengan kasus Covid-19 terbanyak di dunia dengan melaporkan 48,1 juta kasus yang diiringi 777 ribu kematian sejak virus itu memasuki wilayanya.

Sementara itu, kenaikan ini sendiri terjadi saat Washington mulai melaporkan masuknya varian terbaru, Omicron, di wilayahnya. Kasus varian itu sudah mulai dilaporkan di California, New York, Colorado, dan Minnesota.

Presiden AS Joe Biden sendiri dilaporkan memperketat aturan perjalanan ke dan di dalam AS. Semua penumpang international yang masuk harus diuji Covid-19 dalam waktu 24 jam mulai Senin (6/12/2021).

Pengetatan protokol pengujian pra-keberangkatan akan berlaku untuk semua pelancong internasional yang masuk terlepas dari status vaksinasi. Sebelumnya, AS mewajibkan bukti tes Covid-19 negatif yang diambil dalam waktu 72 jam setelah keberangkatan meskipun hanya untuk pelancong yang baru divaksin.

Pelancong yang tidak divaksinasi juga harus memiliki tes Covid-19 negatif. Hasilnya juga harus berlaku dalam satu hari keberangkatan.

AS juga memperpanjang syarat wajib masker di pesawat dan transportasi umum hingga 18 Maret 2022. Mandat ini seharusnya berakhir Januari 2022. Denda akan berlaku dua kali lipat lika tidak patuh. Mulai dari US$ 500 hingga US$3.000 untuk pelanggar berulang.

Varian Omicron sendiri telah dimasukkan sebagai 'variant of concern' oleh WHO. Varian itu awalnya merebak luas di Botswana dan Afrika Selatan. Hingga saat ini, WHO masih melakukan penelitian lanjutan mengenai virus itu, terutama mengenai kemampuan virus itu dalam melawan imun yang dibuat oleh vaksin Covid-19 biasa.

 


[Gambas:Video CNBC]

(tps/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading