Internasional

Awas RI! Varian Baru Covid-19 sampai Hong Kong, Ini Faktanya

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
26 November 2021 14:08
Infografis/Varian Mutasi virus dari inggris, india dan afrika Selatan, Sudah Sampai Indonesia/Aristya Rahadian Foto: Infografis/Varian Mutasi virus dari inggris, india dan afrika Selatan, Sudah Sampai Indonesia

Jakarta, CNBC Indonesia - Lupakan sejenak varian Delta. Muncul varian baru, yang diprediksi lebih ganas, dari virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit Covid-19 ini.

Varian baru yang diberi nama B.1.1.529 ini terdeteksi di Afrika Selatan (Afsel). Institut Nasional untuk Penyakit Menular (NICD) menyatakan telah mengkonfirmasi 22 kasus positif, dengan lebih banyak kasus dikonfirmasi saat hasil tes keluar per Kamis (25/11/2021).


Di Afsel, virus ini mulai menyebar di beberapa titik peningkatan kasus terbaru di wilayah Gauteng. Virus ini juga ditemukan di Botswana dan Hong Kong. Namun untuk kasus di Hong Kong muncul melalui seorang musafir dari Afsel.

Punya 32 Mutasi

Sekelompok peneliti varian baru Covid-19 ini juga mengungkap hal yang mengkhawatirkan. Peneliti menyebut varian yang ditemukan di Afsel itu berpotensi sangat berbahaya.

Ahli virologi menemukan bahwa varian itu membawa 32 mutasi pada sisi lonjakan proteinnya. Mutasi pada protein lonjakan dapat mempengaruhi kemampuan virus untuk menginfeksi sel dan juga menghambat kekebalan.

"Sangat, sangat banyak yang harus dipantau karena profil lonjakan yang mengerikan itu," ujar Dr Tom Peacock, ahli virologi di Imperial College London, kepada Guardians, Rabu (24/11/2021).

Ravi Gupta, profesor mikrobiologi klinis di Universitas Cambridge, juga ikut mengkonfirmasi hal ini. Ia mengatakan penelitiannya menemukan bahwa dua mutasi pada B.1.1.529 meningkatkan infektivitas dan mengurangi pengenalan antibodi.

"Itu memang terlihat menjadi perhatian yang signifikan berdasarkan mutasi yang ada," katanya. "Namun, properti utama dari virus yang tidak diketahui adalah daya menularnya, karena itulah yang mendorong (penyebaran) varian Delta. Pelarian kekebalan hanyalah bagian dari gambaran tentang apa yang mungkin terjadi."

Meski begitu, Direktur Institut Genetika UCL Prof Francois Balloux, mengatakan bahwa saat ini masyarakat tidak perlu terlalu khawatir. Pasalnya belum dilaporkan ledakan kasus akibat varian ini.

"Untuk saat ini harus dipantau dan dianalisis secara ketat, tetapi tidak ada alasan untuk terlalu khawatir kecuali jika frekuensinya mulai meningkat dalam waktu dekat," sebutnya.

Tak Mempan Vaksin dan Lebih Berbahaya dari Varian Delta?

Selain memiliki banyak mutasi, varian baru ini juga dikatakan tidak mempan dengan vaksin yang sudah tersedia saat ini.

Meski saat ini para ilmuwan tidak memiliki cukup data untuk mengetahui seberapa berbahaya varian baru, ada kekhawatiran varian B.1.1.529 yang memiliki banyak mutasi ini dapat menghindari pertahanan tubuh.

Profesor Christina Pagel, direktur Unit Riset Operasional Klinis di UCL, mengatakan di Twitter B.1.1.529 mungkin memiliki keunggulan signifikan dibandingkan Delta dan C.1.2.. Varian C.1.2. terkait dengan transmisibilitas tinggi.

"Kami tahu bahwa B.1.529 memiliki lebih banyak mutasi daripada varian lain dan memiliki mutasi yang terlihat pada varian lain yang terkait dengan transmisibilitas yang lebih tinggi dan pelepasan kekebalan," tambahnya. "Jumlah dan jenis mutasilah yang mengkhawatirkan para ahli virologi dan imunologi".

Di sisi lain, pejabat NICD Dr Michelle Groome mengatakan bahwa dalam menghadapi varian baru orang harus divaksinasi, memakai masker, mempraktikkan kebersihan tangan yang sehat, menjaga jarak sosial, dan berkumpul di ruang yang berventilasi baik untuk membatasi penyebarannya.

Varian baru yang tidak mempan vaksin mungkin saja benar, sebab virus corona varian Delta yang masih dominan saat ini juga dikatakan dapat mengurangi efektivitas vaksin Covid-19.

"Data menunjukkan bahwa sebelum kedatangan varian Delta, vaksin mengurangi penularan sekitar 60%. Dengan Delta, itu turun menjadi sekitar 40%," kata Tedros dalam jumpa pers di Jenewa, Rabu (24/11/2021), sebagaimana dikutip oleh The Straits Times.

Tindakan WHO dan Tutup Penerbangan ke Afrika

Sementara itu, WHO sendiri mengatakan tengah meminta pertemuan darurat untuk memantau varian itu. Ini penting di tengah makin melonjaknya kasus Covid-19 di Eropa dan dunia yang memasuki musim liburan akhir tahun.

"Kami belum tahu banyak tentang ini. Apa yang kita ketahui adalah bahwa varian ini memiliki sejumlah besar mutasi," kata pimpinan teknis WHO untuk Covid-19, Dr. Maria Van Kerkhove, dalam tanya jawab yang disiarkan langsung di media sosial organisasi, Kamis (25/11/2021).

"Dan kekhawatirannya adalah ketika Anda memiliki begitu banyak mutasi, itu dapat berdampak pada bagaimana virus berperilaku, "

Pertemuan itu akan memutuskan ke mana B.1.1.529 akan diklasifikasikan. Apakah varian menarik atau perlu diperhatikan.

"Saat ini, para peneliti sedang berkumpul untuk memahami di mana mutasi ini berada di protein lonjakan dan situs pembelahan furin, dan apa artinya itu bagi diagnostik atau terapi kami dan vaksin kami," kata Van Kerkhove lagi.

Sementara itu, Inggris mengumumkan akan melarang kembali penerbangan dari enam negara Afrika. Hal ini berlaku mulai Jumat ini.

"Badan Keamanan Kesehatan Inggris sedang menyelidiki varian baru," kata Menteri Kesehatan Sajid Javid dalam sebuah tweet yang mengumumkan pembatasan perjalanan.

"Lebih banyak data diperlukan tetapi kami mengambil tindakan pencegahan sekarang."


[Gambas:Video CNBC]

(tfa/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading