Ekspor Bauksit Disetop, Harga Bauksit Domestik Harus Fair!

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
26 November 2021 12:05
Pertambangan bauksit PT Aneka Tambang (Antam)‎ (Persero) di Tayan Hilir, Kalimantan Barat (Kalbar), (CNBC Indonesia/Muhammad Choirul Anwar) Foto: Pertambangan bauksit PT Aneka Tambang (Antam)‎ (Persero) di Tayan Hilir, Kalimantan Barat (Kalbar), (CNBC Indonesia/Muhammad Choirul Anwar)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta ekspor bauksit dihentikan mulai 2022. Bila ini terjadi, maka berarti lebih cepat dari aturan di dalam Undang-Undang No.3 tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (UU Minerba) di mana penghentian ekspor komoditas mineral yang belum dimurnikan paling lambat Juni 2023.

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Bisman Bakhtiar meminta, jika larangan ekspor bauksit ini diberlakukan, maka harga bauksit di dalam negeri harus adil.

"Pemerintah harus konsisten dalam implementasinya, serta mengatur tata niaga bauksit dalam negeri dengan fair," ungkapnya kepada CNBC Indonesia, dikutip Jumat (26/11/2021).


Dia memaparkan rencana penghentian ekspor bahan mentah, termasuk bauksit, ini bagus dan perlu didukung. Hal ini dikarenakan sifat pengusahaan bauksit hampir sama dengan nikel.

"Dengan stop ekspor, maka peningkatan nilai tambah dengan pengolahan dan pemurnian di dalam negeri akan semakin meningkat," tuturnya.

Pemurnian yang dilakukan di dalam negeri akan berdampak bagus, tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi mineral bauksit, akan tetapi juga menarik investasi dan memicu dampak berganda (multiplier effect).

"Namun, pemerintah perlu hati-hati karena pasti akan ada tekanan dari pasar dunia," ucapnya mewanti-wanti.

Sebelumnya, Presiden Jokowi menyampaikan tidak hanya bauksit, ia juga meminta ke depannya Indonesia berhenti mengekspor konsentrat tembaga hingga timah, setelah sebelumnya Indonesia sukses menghentikan ekspor bijih nikel per 1 Januari 2020 lalu.

Menurutnya, ini perlu dilakukan agar Indonesia tidak lagi menjual bahan mentah, melainkan harus bernilai tambah terlebih dahulu setelah melalui proses pengolahan dan pemurnian di dalam negeri. Dengan demikian, negara dan rakyat akan mendapatkan keuntungan lebih besar dibandingkan hanya menjual bahan mentah.

"Kemudian yang ingin kita lanjutkan transformasi ekonomi tidak boleh berhenti, reformasi struktural tidak boleh berhenti, karena ini basic setelah memiliki infrastruktur," ungkap Jokowi dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2021, Rabu (24/11/2021).

"Tidak boleh lagi yang namanya ekspor bahan-bahan mentah, raw material, ini stop, udah stop, mulai dari nikel, mungkin tahun depan itung-itungan stop ekspor bauksit, tahun depannya lagi bisa stop tembaga, tahun depan lagi stop timah," tambahnya.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading