Internasional

Heboh Erdogan Sebut Turki Perang & Bawa Nama Tuhan

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
25 November 2021 07:02
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. AP/

Jakarta, CNBC Indonesia - Turki disebut Presiden Recep Tayyip Erdogan sedang berperang. Bukan baku tembak, melainkan "perang perekonomian".

Erdogan bahkan yakin memenangkan perang itu. Ia menyebut Tuhan akan membantu negerinya.


"Kita melihat permainan yang dimainkan oleh mereka atas mata uang, bunga dan kenaikan harga ... dan menunjukkan keinginan kita untuk melanjutkan rencana permainan kita sendiri," katanya, dikutip AFP, Kamis (24/11/2021).

"Kita akan muncul sebagai pemenang dari 'perang kemerdekaan ekonomi' ini dengan bantuan Allah dan rakyat."

Mengapa ini terjadi?

Pernyataan ini sebenarnya dilontarkan Erdogan Senin saat ia menghadiri rapat kabinet. Ia membela diri terkait kebijakan pemotongan suku bunga ke bank sentral yang membawa mata uang Turki, lira, kembali merosot tajam.

TCMB, kembali memangkas suku bunga acuan sebesar 100 basis poin menjadi 15% Kamis pekan kemarin. Akibatnya, kurs lira makin merosot melawan dolar Amerika Serikat (AS).

TCMB yang kini dipimpin Sahap Kavciogl usudah memangkas suku bunga sebesar 400 basis poin sejak September lalu ke 15%, padahal inflasi di Turki kini nyaris 20%. Alhasil, ketika suku bunga lebih rendah dari inflasi, mata uang pun terpuruk.

Lira jatuh ke rekor terendah Selasa hingga 15% yakni 13/US$. Lira telah kehilangan lebih dari 40 persen nilainya terhadap dolar sejak awal tahun.

Kebijakan yang anti mainstream TCMB mengikuti kemauan Erdogan menjadi pemicu krisis mata uang lira. Bank sentral biasanya akan menaikkan suku bunga ketika inflasi tinggi.

Tetapi TCMB malah mengambil kebijakan sebaliknya. Langkah itu tak lepas dari sikap Erdogan yang anti terhadap suku bunga tinggi.

Ia berpandangan suku bunga tinggi adalah "biangnya setan". Jika gubernur TCMB memilik pandangan yang berbeda, akan berujung pada pemecatan.

Sebelum Kavcioglu, Gubernur TCMB dijabat Naci Agbal yang menjabat hanya lima bulan saja, November 2020 hingga Maret 2021. Di bawah era Agbal, nilai tukar lira Turki sangat perkasa.

Lira sudah melemah sejak 2018 dan di rekor terlemah sepanjang sejarah pada November tahun lalu. Namun, saat Agbal mulai menaikkan suku bunga perlahan lira bangkit, hingga mencatat penguatan 24% dari rekor terendah.

Jebloknya kurs lira bisa berdampak lebih luas bagi Turki. Inflasi di Turki saat ini nyaris mencapai 20%, dengan inflasi setinggi itu, riil yield obligasi tenor 10 tahun menjadi negatif.

Hal ini tentunya tidak akan menarik bagi investor menanamkan modalnya di Turki. Yield tenor 10 tahun Turki kini paling bawah dibandingkan negara-negara emerging market lainnya.

Dengan demikian, Erdogan akan sulit mendapatkan pembiayaan dari penerbitan obligasi. Apalagi jika kurs lira terus terpuruk pada analis memperkirakan inflasi bisa mencapai 30% sementara rill yield tentunya akan semakin negatif.

Tingginya inflasi kemudian akan menurunkan daya beli masyarakat. Ini tentunya berdampak pada pertumbuhan ekonomi.

Tidak diambilnya kebijakan untuk menaikkan suku bunga membuat inflasi sulit didinginkan. Harga barang-barang kebutuhan pokok di negeri berpenduduk 85 juta itu terus melonjak.

Sementara gaji dengan mata uang lokal sangat terdevaluasi. Upah minimum Turki bernilai sekitar US$ 380 pada Januari dan, dengan volatilitas kemarin, gaji menyusut menjadi US$224.

Menurunnya lira juga diyakini akan memiliki dampak signifikan pada utang negeri itu.Menurut lembaga pemeringkat Fitch, pada Agustus 57% dari utang pemerintah pusat Turki terkait dengan mata uang asing atau dalam denominasi.

Ini artinya membayar utang itu akan menjadi lebih menyakitkan karena lira terus turun nilainya.

"Kami melihat eksperimen ekonomi yang salah tentang apa yang terjadi ketika bank sentral tidak memiliki kebijakan moneter secara efektif," kata Tim Ash, ahli strategi pasar negara berkembang senior di Bluebay Asset Management, dikutip Reuters dalam sebuah catatan.

"Erdogan telah mengambil kemampuan bank sentral untuk menaikkan suku bunga kebijakan."

Krisis yang lebih besar dikatakan bisa muncul jika terjadi rush money. Ini adalah kondisi ketika terjadi penarikan uang besar-besaran oleh masyarakat.

Sementara itu, pemimpin oposisi dari Partai Rakyat Republik (CHP), Kemal Kilicdaroglu, meminta segera dilaksanakan pemilihan umum. Ia meminta Erdogan berhenti sebelum pemilu

"Berhenti Sudah, Erdogan! Segera pemilu," kicau Kilicdaroglu sebagaimana dikutip Reuters.

Hal sedana diungkapkan dari ketua partai Iyi, Meral Aksenser. Ia mengatakan Erdogan sudah menghancurkan mata uang lira, dan reputasi negara Turki.

"Jika ini disengaja, ini benar-benar sebuah pengkhianatan. Tetapi jika jebloknya lira terjadi akibat ketidakmampuan, maka sudah jelas apa yang harus dilakukan: lakukan pemilu secepatnya untuk menghentikan aib ini," kata Aksenser.

Turki kini pun berisiko menghadapi gejolak politik akibat jebloknya nilai tukar lira. Padahal pemimpin 66 tahun itu diyakini sedang mencari cara untuk memperpanjang pemerintahannya.

Erdogan selama ini telah memerintah Turki sebagai perdana menteri sejak 2002 dan presiden sejak 2014. Pemilihan presiden akan dilakukan Juni 2023.




[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading