China Ambruk 'Dihajar' Banyak Krisis, RI Kena Getahnya Juga?

News - Redaksi, CNBC Indonesia
22 November 2021 08:45
Infografis/ Xi Junping lagi Pening, 6 Krisis Serang China Bersamaan/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejak pandemi Covid-19, nasib China seakan tidak berjalan dengan mulus. Sebab ramai-ramai krisis menghantam Negeri Tirai Bambu tersebut secara berturut-turut.


Apa sajakah itu?

Krisis Listrik

Salah satu krisis yang menghantui China saat ini adalah krisis listrik, yang dikabarkan bakal makin meluas sejak beberapa bulan lalu. Krisis ini terjadi karena akumulasi sejumlah masalah.

China kekurangan batu bara yang mendominasi 70% sumber listrik. Ini terjadi setelah rekor harga bahan bakar yang tinggi, serta permintaan industri pasca pandemi yang meningkat seiring desakan menggunakan industri yang lebih ramah lingkungan.

Krisis listrik di China tidak memberatkan rumah tangga, tetapi ini juga menyebabkan gangguan produksi di banyak pabrik. Hampir 20 wilayah di negara tersebut mengalami gangguan pemadaman di hampir 20 wilayah.

Melonjaknya harga energi berimplikasi pada kenaikan harga produsen ke level tertinggi setidaknya dalam 25 tahun pada September. Pekan lalu, harga naik 10,7% dari tahun sebelumnya.

Selain itu musim dingin yang akan datang juga kemungkinan memperburuk situasi. Pusat Meteorologi China memperkirakan angin kencang akan menurunkan suhu rata-rata hingga 14 derajat celcius pekan ini.

Suhu di China utara misalnya, sudah turun di bawah normal. Ini makin meningkatkan permintaan pemanas di tengah krisis listrik.

Tiga provinsi timur laut, Jilin, Heilongjiang dan Liaoning, yang saat ini juga kekurangan listrik, juga memulai penggunaan pemanas untuk musim dingin. Hal yang sama juga terjadi di provinsi Mongolia Dalam dan Gansu yang bergantung pada PLTU batu bara untuk mengatasi cuaca yang lebih dingin dari biasanya.

Sebenarnya, pemerintah Beijing disebut sudah mulai melakukan sejumlah langkah untuk menahan kenaikan harga batu bara dan meningkatkan produksi. Pemerintah juga menerapkan penjatahan listrik di pabrik-pabrik.

China disebut menyetujui 153 tambang baru untuk meningkatkan kapasitas. Negeri itu berharap bisa menambah pasokan hingga 55 juta ton pasukan di kuartal IV 2021. Namun sayangnya Sebanyak 60 tambang batu bara dikabarkan tenggelam.

'Hantu' Stagflasi

Selain krisis listrik, China juga bakal mengalami stagflasi. Ekonomi yang melambat tetapi inflasi tinggi inilah yang dikenal dengan istilah stagflasi dan menjadi 'mimpi buruk' bagi china, karena pelaku ekonomi harus membayar mahal demi pertumbuhan ekonomi yang biasa saja.

Keterbatasan pasokan bahan baku, tenaga kerja, plus krisis energi membuat biaya produksi membengkak di China.

Inflasi tingkat produsen (Producer Price Index/PPI) China pun melonjak tajam. Pada September 2021, PPI China mencapai 10,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Ini adalah rekor tertinggi setidaknya sejak 1996.

Saat tekanan inflasi mulai terasa, output perekonomian malah melambat. Ini terlihat dari aktivitas manufaktur yang dicerminkan dengan Purchasing Managers' Index (PMI).

Biro Statistik Nasional China (NBS) melaporkan PMI manufaktur periode Oktober 2021 adalah 49,2, turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 49,6, sekaligus jadi terendah sejak Februari 2020.

Perlu diketahui, PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Di bawah 50 berarti dunia usaha sedang berada di fase kontraksi, tidak ada ekspansi.

Padahal, manufaktur di China memiliki peranan yang sangat vital bagi perekonomian. Dalam 10 tahun terakhir, rata-rata sektor ini menyumbang 29,06% dalam pembentukan Produk Domestik Bruto.

Tanda-tanda stagflasi makin terlihat di China. Harga barang di negeri itu terus naik sementara data manufaktur menunjukkan produksi melambat.

Covid-19 China Makin Nyebar

Gelombang baru Covid-19 akibat varian Delta di China juga makin menyebar. Setidaknya, sejak klaster wisata ditemukan 17 Oktober, hingga Minggu (14/11/2021) sudah ada 1.308 kasus lokal yang dideteksi pemerintah Tirai Bambu.

Mengutip Reuters, ini merupakan rekor jika dibandingkan gelombang yang muncul musim panas lalu di Nanjing, Juli 2021. Saat itu, jumlah kasus terkait sebanyak 1.280.

Dalam update terbaru, Covid juga menyebar di 21 wilayah provinsi. Terbaru, Covid-19 kini mewabah di kota Dahlian, Provinsi Liaoning.

Sejak pasien bergejala lokal pertama di Dalian dari wabah terbaru dilaporkan pada 4 November, kota pelabuhan berpenduduk 7,5 juta orang itu telah mendeteksi rata-rata sekitar 24 kasus lokal baru sehari. Jumlah ini lebih banyak daripada kota-kota China lainnya.

Ini juga membuat kota-kota terdekat yakni Dandong, Anshan dan Shenyang mengambil kebijakan khusus pada mereka yang datang dari Dalian. Mereka harus dikarantina di fasilitas terpusat selama 14 hari.

Dalian merupakan pintu pengiriman makanan laut serta buah-buahan dan beberapa daging. Akibat Covid-19, pemerintah juga meminta semua bisnis yang menangani makanan dingin dan beku impor untuk menangguhkan operasi.

Hingga kini China daratan telah melaporkan total 98.368 kasus virus corona yang dikonfirmasi dengan gejala, termasuk infeksi yang ditularkan di dalam negeri dan yang dari luar negeri. Sementara ada 4.636 kematian.

RI Bergantung Bahan Baku China
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading