Balas Dendam! Habis Ambrol 33%, Harga Batu Bara Melesat 7%

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
22 November 2021 08:09
Bongkar muat batu bara di China. (REUTERS/ALY SONG)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara bergerak naik sepanjang pekan lalu. Putus sudah rantai pelemahan harga si batu hitam yang terjadi empat minggu berturut-turut.

Akhir pekan lalu, harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) ditutup di US$ 158/ton. Naik 0,57% dibandingkan sehari sebelumnya.

Secara mingguan, harga komoditas ini membukukan lesatan 7,3%. Ini menjadi kenaikan mingguan pertama setelah koreksi selama empat pekan beruntun. Selama empat bulan tersebut, harga anjlok 38,99%.


Harga batu bara yang sudah 'murah' itu membuat investor kembali tertarik. Aksi borong terjadi, harga batu bara terangkat akibat technical rebound.

Setelah sempat digenjot gila-gilaan, produksi batu bara di China kini mulai stabil di kisaran 12 juta ton. Per 14 November 2021, stok batu bara di pembangkit listrik sudah memadai yakni 129 juta ton dan pada akhir bulan ini bisa mencapai 140 juta ton.

"Harga komoditas energi, termasuk batu bara, sudah turun signifikan akhir-akhir ini," ujar Zhu Xiaohai, Deputi Direktur Komite Reformasi dan Pembangunan Nasional China (NDRC), seperti dikutip dari Reuters.

Harga batu bara yang ambles lebih dari 38% dalam sebulan terakhir sangat membantu dunia usaha. Pasokan listrik sudah cukup, tidak ada lagi pemadaman bergilir.

Tanpa byar-pet, produksi baja, aluminimun, bubur kertas (pulp), PVC, dan sebagainya bisa ditingkatkan. Hasilnya, harga barang-barang pun bergerak turun. Jadi sepertinya inflasi China bulan ini tidak akan separah bulan lalu, yang tertinggi sejak September 2020.

TIM RISET CNBC INDONESIA

Artikel Selanjutnya

Naik Lagi, Batu Bara Dekati Rekor Tertinggi


(aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading