Internasional

Awas, AS Ajak China, India, Jepang 'Keroyok' Harga Minyak

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
18 November 2021 12:50
President Joe Biden speaks during a visit to the General Motors Factory ZERO electric vehicle assembly plant, Wednesday, Nov. 17, 2021, in Detroit. (AP Photo/Evan Vucci)

Jakarta, CNBC Indonesia - Demi menurunkan harga energi global, Amerika Serikat (AS) telah meminta beberapa negara konsumen minyak terbesar di dunia, termasuk China, India dan Jepang, untuk mempertimbangkan pelepasan stok minyak mentah mereka.

Permintaan yang tidak biasa ini muncul saat Presiden Joe Biden mendapatkan tekanan politik atas kenaikan harga minyak dan biaya konsumen lain akibat rebound ekonomi dari posisi terendah di awal pandemi Covid-19.


Permintaan langsung ke negara-negara terkait juga diakibatkan ditolaknya permintaan AS untuk mempercepat peningkatan produksi oleh anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya

"Kita berbicara tentang simbolisme konsumen terbesar di dunia yang mengirim pesan ke OPEC bahwa 'Anda harus mengubah perilaku Anda,'" kata salah satu sumber yang mengetahui masalah tersebut, dikutip dari Reuters, Kamis (18/11/2021).

Sumber itu juga mengatakan Biden dan para asistennya telah membahas kemungkinan pelepasan terkoordinasi persediaan minyak dengan sekutu dekat termasuk Jepang, Korea Selatan dan India, serta dengan China, selama beberapa minggu terakhir.

Sejauh ini Jepang menanggapi positif penjangkauan awal. Namun belum jelas jelas bagaimana tanggapan dari negara lain.

Namun beberapa orang yang akrab dengan masalah ini memperingatkan bahwa negosiasi atas pelepasan pasokan yang terkoordinasi belum diselesaikan dan juga belum ada keputusan akhir yang dibuat tentang tindakan spesifik pada harga minyak.

Bagian AS dari potensi pelepasan cadangan sendiri perlu lebih dari 20 juta hingga 30 juta barel untuk mempengaruhi pasar, menurut sumber AS yang berpartisipasi dalam diskusi. Rilis tersebut bisa dalam bentuk penjualan, pinjaman atau keduanya dari US Strategic Petroleum Reserve (SPR).

SPR didirikan pada 1970-an setelah Embargo Minyak Arab untuk memastikan Amerika Serikat memiliki pasokan yang cukup untuk menghadapi keadaan darurat. Sementara Gedung Putih juga menolak mengomentari isi rinci percakapan dengan negara lain.

"Tidak ada keputusan yang dibuat," kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih.

"Selama berminggu-minggu, kami sedang berbicara dengan konsumen energi lain untuk memastikan pasokan energi global dan harga tidak membahayakan pemulihan ekonomi global," tambah juru bicara itu.

Setelah Reuters melaporkan diskusi Gedung Putih, minyak mentah berjangka AS diperdagangkan pada US$ 78,18, turun dari penutupan US$ 78,36 per barel. Sementara Brent turun menjadi US$ 80,21 setelah berakhir pada US$ 80,28 per barel.

Sebelum berita itu, minyak mentah AS dan patokan global Brent mencatat harga penyelesaian terendah sejak awal Oktober. Brent turun 1,7% dan minyak mentah AS turun 3% untuk hari itu.

Naiknya harga minyak telah mengganggu Biden menjelang pemilihan paruh waktu 2022. Ini akan menentukan apakah partai Demokrat yang menaunginya dapat mempertahankan suara mayoritas di Kongres AS.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Survei NBC News: Publik Kritik Biden Soal Afghanistan & Covid


(tfa/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading