Tenang 'Kiamat' Batu Bara Masih Lama, Semua Ribut Soal Uang!

News - Wilda Asmarini, CNBC Indonesia
12 November 2021 11:40
Bongkar muat batu bara di China. (REUTERS/ALY SONG)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia kini beramai-ramai mengampanyekan anti fosil, seperti batu bara, serta minyak dan gas bumi (migas). Sejumlah negara pun mendorong dipercepatnya transisi energi dari energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT) sebagai upaya untuk mengurangi emisi karbon, sehingga meminimalisir dampak perubahan iklim.

Sejumlah upaya pengurangan emisi karbon ini telah dibahas dalam konferensi iklim PBB Conference of the Parties (the COP26) di Glasgow, Skotlandia, sejak 31 Oktober hingga hari ini, 12 November 2021.

Namun ternyata, perselisihan uang memperumit upaya untuk mendapatkan kesepakatan pada pembicaraan konferensi iklim the COP26 PBB ini karena negara-negara berkembang mendorong negara-negara kaya untuk menanggung biaya perubahan iklim.


Namun negara-negara kaya tersebut masih ribut soal siapa penghasil emisi terbesar, sehingga tidak ada kepastian siapa yang seharusnya mendanai biaya perubahan iklim di negara-negara berkembang tersebut.

Mengutip Reuters, Jumat (12/11/2021), sebagian dari masalah yang ada adalah tidak ada jawaban sederhana tentang siapa penghasil emisi gas rumah kaca terbesar yang menyebabkan pemanasan global, tuduhan yang dibebankan negara-negara berkembang pada kaki negara-negara kaya.

Sementara China dan Amerika Serikat berada di puncak grafik emisi, secara historis dan dalam hal angka absolut saat ini, pada basis per kapita China turun peringkat dan Qatar - yang menghasilkan semua energinya dari minyak dan gas penghasil CO2 - melesat ke atas, berdasarkan data dari Our World in Data, dilansir dari Reuters.

Inggris, tuan rumah pembicaraan COP26 di Glasgow, Skotlandia, bisa dibilang sebagai negara di mana sumber pemanasan global dimulai karena mulai menghasilkan banyak emisi dari batu bara sekitar 1750 saat revolusi industri.

Inggris tetap menjadi pencemar CO2 terbesar sampai 1911 ketika Amerika Serikat mengambil alih menjadi posisi teratas sebagai penghasil emisi.

Amerika Serikat sejak itu tetap menjadi penghasil emisi utama dan, meskipun China telah mengambil alih dalam hal emisi absolut per tahun, secara total China hanya mengeluarkan sekitar setengah lebih banyak karbon dioksida dari total yang dipompa keluar oleh Amerika Serikat sejak pertengahan abad ke-18.

Berdasarkan emisi per kapita, Amerika Serikat berada di peringkat ke-13 dan China ke-41, sementara India, penghasil emisi tahunan terbesar ketiga saat ini hanya memiliki emisi tertinggi ke-131 per orang karena banyak dari populasinya yang besar tidak memiliki akses ke listrik.

Pertanyaan tentang tanggung jawab historis ini telah membayangi COP26, di mana negara-negara berkembang mendorong negara-negara kaya untuk menyediakan lebih banyak dana untuk membantu mereka menemukan alternatif bahan bakar fosil dan beradaptasi dengan perubahan iklim.

Sejauh ini, uang belum datang, memperumit upaya untuk mengekang pemanasan global karena beberapa negara berkembang mengatakan mereka tidak mampu mengurangi emisi lebih cepat tanpa bantuan keuangan lebih banyak.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

19 Negara Stop Pendanaan Fosil, Gimana Nasib 1 Juta Barel RI?


(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading