'Tsunami' Kebangkrutan Datang, Waralaba Bertumbangan!

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
09 November 2021 18:30
Suasana pusat perbelanjaan Cibinong Square, Cibinong, Jawa Barat, Rabu (27/10/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tsunami kebangkrutan juga menghantam bisnis waralaba atau franchise. Saat ini, banyak penyewa lisensi yang coba mengalihkan lisensinya kepada orang lain.

"Selama pandemi di 2020 banyak yang tutup, tapi kita bisa lihat mulai akhir 2020 geliat kembali bisnis waralaba mulai terasa," kata Ketua Komite Tetap Kadin Indonesia bidang Franchise, Lisensi & Networking Marketing Levita G Supit kepada CNBC Indonesia, Selasa (9/11/21).

Meski geliat sudah mulai nampak, namun masih jauh untuk kembali seperti waktu normal. Menurunnya daya beli masyarakat menjadi salah satu penyebab, dimana kemampuan tidak seperti waktu sebelum pandemi. Akibatnya, banyak franchise melakukan berbagai cara untuk bertahan, termasuk menutup puluhan gerai.


"Cara survive bermacam-macam, dengan mengurangi gerai dari 100 gerai jadi 50 atau 70. Luas tempat yang tadinya 500m2 diperkecil jadi 200m2. Itu dilakukan waralaba agar bisnisnya tetap survive," ujar Levita.

Namun, tantangan pelaku usaha tidak sampai di situ. Beban biaya yang menjadi tanggungan selama pandemi tetap besar. Pada masa awal pandemi berjalan, banyak pengeluaran yang tidak bisa diimbangi dengan pendapatan.

"Fix cost tetap jalan sementara nggak ada income, khususnya pelaku usaha di mal. Tahun lalu mal buka-tutup. Saat tutup, semua bisnis nggak ada yang bisa beroperasi sehingga membuat bisnis nggak jalan, sehingga nggak ada income sementara ada tanggungan membayar tenaga kerja walau nggak full," sebutnya.

Banyak franchise yang tutup hingga harus menjual lisensinya kepada pihak lain. Langkah ini dilakukan demi bisa bertahan setelah terkena pandemi hampir 2 tahun.

Levita G Supit mengungkapkan bahwa dana tersebut bakal digunakan untuk beralih ke digitalisasi. Namun, itu tidak mudah karena membutuhkan dana untuk SDM dalam mengelolanya.

"Sekarang mau nggak mau bisnis harus online untuk merespons perilaku masyarakat yang terjadi. Nggak semua pelaku usaha siap mengikuti perubahan perilaku masyarakat yang terjadi. Kenapa? salah satunya segi dana, karena digitalisasi butuh dana dan SDM yang mampu mengelola digital," sebutnya.

Perubahan ke bisnis secara online ini melingkupi promosi hingga pembayaran cashless. Disini pelaku usaha waralaba harus merogoh kocek lebih dalam menyiapkannya. Di sisi lain, potensi meraup pendapatan sempat terganggu.

"Satu tahun kemarin selama 2020 banyak bisnis tutup di mal, perkantoran, jadi mengakibatkan nggak ada income, jadi buat bertahan menggunakan aset-aset dengan dijual," sebutnya.

Namun, Ia optimistis di tahun berikutnya waralaba masih bisa bertahan di tengah badai pandemi. Salah satunya karena daya beli yang mulai merangkak naik meski belum pulih sepenuhnya.

"Pelaku usaha masih cari peluang bisnis di waralaba, pastinya waralaba masih berprospek karena menjalankan waralaba sudah proven, jadi nggak mulai dari 0 tapi sudah menjalankan 50% tinggal ke 100%," sebutnya.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading