Internasional

Covid Inggris Makin Ngeri, Tembus 50.000 Kasus Sehari

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
22 October 2021 08:57
The Union Jack flag flies above the Houses of Parliament from the Victoria Tower in London, Thursday, Sept. 12, 2019. The British government insisted Thursday that its forecast of food and medicine shortages, gridlock at ports and riots in the streets after a no-deal Brexit is an avoidable worst-case scenario. (AP Photo/Alastair Grant)

Jakarta, CNBC Indonesia - Covid-19 Inggris makin merajalela. Dalam laporan Kamis (21/10/2021), kasus baru kini menembus 52.009.

Ini merupakan rekor terbaru sejak 17 Juli 2021 di mana ada 54.674 kasus. Hal itu membuat total Covid-19 Inggris sejak corona menyerang di 2020 menjadi 8,6 juta orang, keempat terbanyak di dunia.


Kemarin, Inggris juga mencatat 115 kematian baru. Kini angka total kematian menjadi 139.146 sejak pandemi terjadi.

Sejumlah ahli kesehatan menyuarakan "rencana B" ke pemerintah Inggris. Mereka menyebut pemerintah "melakukan kelalaian dengan sengaja" jika tak melakukan halm ini.

Dokter mendesak warga kembali bekerja di eumah dan wajib memakai masker. Lonjakan banyak terjadi di klaster keluarga dan aktivitas dalam ruangan.

Meski demikian, mengutip BBC International, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan kasus rawat inap dan kematian tetap rendah meski infeksi tinggi. Ia pun mendesak banyak orang mendapat vaksin penguat (booster) Covid-19.

Meskipun kasusnya tinggi, pemerintah akan melanjutkan rencana strategi vaksinasi, dan sekarang keadaannya jauh lebih baik daripada tahun lalu," katanya dikutip Jumat (22/10/2021).

Ia juga meminta anak 12 hingga 15 tahun mendapat vaksin. Menurutnya vaksin sudah tersedia untuk mereka.

Sebelumnya, kenaikan ini juga diyakini akan terus terjadi. Bahkan ramalan baru dari Kementerian Kesehatan setempat menyebut kasus bisa menembus 100.000 per hari, seiring masuknya musim dingin

Pelonggaran besar-besaran Covid-19 sudah dilakukan negeri itu sejak Juli lalu. Berbeda dengan negara-negara Uni Eropa lain yang memberlakukan "paspor vaksin", Inggris menghentikan rencana untuk memberlakukannya.

Selain itu, penggunaan masker, jarak sosial dan tindakan lainnya tidak lagi diwajibkan oleh hukum di Inggris.Ini kontras dengan tindakan ketat di beberapa negara Eropa, di mana bukti vaksinasi atau tes negatif masih diperlukan untuk mengunjungi bar dan restoran atau bekerja di beberapa bidang, termasuk perawatan kesehatan.

Kesuksesan vaksinasi sebelumnya juga terganggu karena mandeknya program suntikan booster dan suntikan vaksin untuk anak. Belum lagi isu lain yakni ditemukannya mutase varian Delta, Delta Plus (AY 4.2) di negeri itu.

Inggris menggunakan AstraZeneca untuk vaksinasi Covid-19. Namun dari studi Kesehatan Masyarakat Inggris (PHE), perlindungan vaksin akan turun dari 66,7% ke 47% selama 20 minggu.

Ini berbeda jika dibandingkan dengan Pfizer. Di mana turun 90% ke 70% dalam waktu yang sama.

Dalam penelitian berbeda, efisiensi melawan pasien dirawat ke RS karena varian Delta juga turun 90% ke bawah 80% setelah 140 hari. Sementara Pfizer tetap 90%.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sembako Langka, Inggris Sedang Dilanda 'Pingdemic', Apa Itu?


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading