Ada Lagi Nih! Ternyata Indonesia Dapat Berkah Rp 5,79 Triliun

News - Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
13 October 2021 14:31
A general view of the CF industries plant in Billingham, Britain September 22, 2021. Picture taken with a drone. REUTERS/Lee Smith

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga gas alam dunia melaju kencang pada 2021 bahkan menyentuh harga tertinggi sejak 2014. Sejak awal tahun, kenaikan harga gas alam tercatat 107,9% year-to-date (ytd) menjadi US$ 5,445 MMBtu.

Kelangkaan persediaan di tengah naiknya permintaan gas untuk energi menjadi pendorong harga gas alam melesat pada tahun 2021. Sayangnya, keadaan ini membuat krisis energi di beberapa negara seperti Inggris, China, India, Lebanon, dan bukan tidak mungkin terus meluas sehingga menjadi krisis energi dunia.


Kondisi gas alam saat ini bisa menguntungkan para negara produsen karena harga jual yang semakin tinggi. Produksi gas alam dikuasai oleh Amerika Serikat (AS) dan Rusia, masing masing memproduksi 914,6 juta meter kubik dan 638,5 juta meter kubik pada tahun 2020 berdasarkan data BP Statistical Review of World Energy 2021.

Bagaimana dengan Indonesia?

Pada 2020 produksi gas alam Indonesia tercatat 63,2, juta meter kubik. Produksi ini membuat Indonesia berada di peringkat 12 produsen gas di dunia dan berkontribusi 1,6% dari total produksi gas alam dunia.

Sayangnya jumlah produksi gas alam tahun 2020 turun 6,6% year-on-year (yoy) dari produksi 2019. Penurunan produksi gas alam Indonesia pun terus menurun dalam 10 tahun terakhir, dari 87 juta meter kubik pada tahun 2010.

Sementara itu, Pada tahun 2020, konsumsi gas alam Indonesia berkurang 5,5% yoy dari tahun 2020 menjadi 41 juta meter kubik. Konsumsi gas alam Indonesia relative stabil selama 10 tahun terakhir dengan rata-rata konsumsi 44 juta meter kubik tiap tahunnya.

Di atas kertas Indonesia bisa diuntungkan dengan naiknya harga gas karena total produksi gas alam lebih tinggi dibanding konsumsinya. Selain itu, nilai ekspor gas Indonesia surplus alias cuan dengan membandingkan nilai ekspor dan nilai impor.

Nilai surplus neraca ekspor-impor gas Indonesia pada bulan Agustus sebesar US$ 407,1 atau setara Rp 5,79 triliun (kurs: Rp 14,222,6), Jumlah tersebut naik US$ 200,9 juta atau 102,64% yoy dari surplus 2020. Surplus yang meroket ini karena harga gas dunia juga melejit sehingga mempengaruhi harga jual gas Indonesia ke luar negeri.

Berdasarkan data BPS, nilai ekspor gas Indonesia pada Agustus 2021 sebesar US$ 744 juta, melesat 104,36% yoy dibanding Agustus 2020 dan naik 20,38% month-to-month (mom) dari Juli 2021. Total sepanjang 2021, nilai ekspor gas Indonesia tercatat US$ 4.379,1 juta, naik 19,80% cumulative-to-cummulative (coc) dari periode yang sama tahun 2020.

Ekspor gas berkontribusi 3,08% terhadap total ekspor Indonesia dan menjadi ekspor terbesar kelima setelah lemak dan minyak hewan/nabati, bahan bakar mineral. Besi dan baja, karet dan barang dari karet.

Nilai impor gas Indonesia pada Agustus 2021 sebesar US$ 336,9 juta, melesat 106,42% yoy dibanding Agustus 2020 dan turun 21,45% month-to-month (mom) dari Juli 2021. Total sepanjang 2021, nilai ekspor gas Indonesia tercatat US$ 2.421,3 juta, naik 42,64% cumulative-to-cummulative (coc) dari periode yang sama tahun 2020.

Impor gas berkontribusi 197% terhadap total ekspor Indonesia dan menduduki urutan tujuh barang impor terbesar Indonesia.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ras/ras)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading