Janji Merkel: Keamanan Israel Selalu Menjadi Perhatian Jerman

News - Tito Bosnia, CNBC Indonesia
10 October 2021 20:45
Angela Merkel. (AP/Markus Schreiber)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan, keamanan Israel tetap menjadi prioritas utama bagi Pemerintah Jerman. Hal itu disampaikan oleh Merkel selama tur perpisahan di Israel, menjelang akhir masa 16 tahun jabatan, pada Minggu (10/10/2021) waktu setempat.

Dilansir dari AFP, Merkel yang melakukan kunjungan ke-8 dan terakhirnya sebelum pensiun dari politik. Ia melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Israel Naftali Bennet sebelum mengunjungi Jerusalem's Holocaust Memorial di Yad Vashem.

"Setelah kejahatan terhadap kemanusiaan Shoah (Holocaust), sangat dimungkinkan (Israel) untuk mengatur ulang dan membangun kembali hubungan dengan Jerman. Saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk menekankan bahwa topik keamanan Israel akan selalu menjadi pusat perhatian dan topik utama setiap pemerintah Jerman," ujarnya di samping Bennet.

Bennet pun memuji Merkel dan menggambarkan Merkel sebagai kompasnya moral bagi Eropa seiring dukungannya untuk Israel.

Sebelum kunjungan itu, Bennett mengatakan dirinya dan pemimpin Jerman diharapkan untuk membahas keamanan regional, terutama terkait permasalahan nuklir Iran.

Merkel awalnya berencana untuk berkunjung pada bulan Agustus, namun menunda perjalanannya selama masa keluarnya pasukan Amerika Serikat (AS) dan sekutu termasuk Jerman, dari Afghanistan yang dinilai kacau.

Merkel juga akan menerima gelar doktor kehormatan dari Haifa's Technion, Institut Teknologi Israel.

Namun, dirinya tak memiliki rencana untuk bertemu dengan pemimpin oposisi Israel, Benyamin Netanyahu yang selama ini berurusan dengan Merkel selama masa jabatannya sebagai Perdana Menteri Israel sejak 2009 hingga 2021.

Merkel juga tak dijadwalkan bertemu dengan Presiden Palestina, Mahud Abbas. Di bawah kepemimpinannya, Jerman telah mengadvokasi solusi bagi Palestina dan Israel yang terus mengalami konflik selama beberapa dekade.

Namun, Merkel menghadapi kritikan dari para aktivis yang tidak menekan Israel untuk mengakhiri kependudukan militernya di Palestina yang sudah terjadi sejak tahun 1967 silam.

Omar Shakir, Direktur Israel dan Palestina di Human Rights Watch, mengkritik Merkel sebab dirinya menganggap pendudukan militer Israel selama 54 tahun sebagai hal yang sementara.

"Pemerintah Jerman yang baru harus menempatkan Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai kebijakan utama bagi Israel dan Palestina," tambahnya.

Tercatat, lebih dari 600 ribu pemukim Israel telah pindah ke Tepi Barat dan Yerusalem timur, yang dulunya diharapkan warga Palestina sebagai bagian dari negerinya di masa depan. Israel juga tercatat telah mempertahankan blokade terhadap 2 juta penduduk Gaza, sejak gerakan Islam Hamas merebut kendali pada tahun 2007.



Iran
Sebelumnya, Jerman dan Israel telah menjalin hubungan diplomatik yang kuat dalam beberapa dekade setelah Perang Dunia II, di mana Berlin berkomitmen untuk menjaga negara Yahudi sebagai penebusan dosa atas Holocaust yang sebelumnya terjadi.

Pada 2008, Merkel berdiri di depan parlemen Israel untuk menebus dosa tersebut atas nama rakyat Jerman dalam sebuah pidato bersejarah.

Sementara itu,Netanyahu berulang kali menggambarkan Iran sebagai ancaman terbesar bagi orang-orang Yahudi sejak Holocaust.

Namun, kebijakan terkait kesepakatan nuklir Iran di 2015, ditandatangani dan didukung oleh Jerman, menjadikan poin utama perbedaan yang menandai hubungan Israel dan Jerman.

Israel secara resmi menentang kesepakatan yang membuat Iran setuju untuk menekan program nuklirnya dengan imbalan keringanan sanksi.

Israel juga mengkritik upaya Jerman, Amerika Serikat dan penandatangan lainnya untuk menghidupkan kembali program tersebut usai penarikan kembali kebijakan yang dilakukan oleh mantan Presiden AS Donald Trump pada 2018 silam.



[Gambas:Video CNBC]

(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading