Internasional

Terungkap! Ini Penyebab Resesi Seks yang Kini Mengancam Dunia

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
08 October 2021 07:10
An Afghan girl in a bus waits to leave after arriving with her family at the Incheon International Airport, South Korea, Thursday, Aug. 26, 2021. (AP Photo/Ahn Young-joon)

Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena "resesi seks" terjadi di banyak negara di dunia, mulai dari wilayah Barat hingga Asia. Istilah ini merujuk pada menurunnya mood pasangan untuk melakukan hubungan seksual, menikah dan punya anak.

Resesi seks yang terjadi sejak beberapa tahun terakhir ini muncul sebagai dampak dari sejumlah soal. Namun apa sesungguhnya penyebab dari fenomena ini?


Di Amerika Serikat (AS), fenomena ini sudah mulai terlihat sejak 2012. Para peneliti Negeri paman Sam mengungkapkan adanya tren yang tidak biasa, yakni angka orang Amerika yang berhubungan seks berkurang jauh daripada dekade sebelumnya.

Laporan The Washington Post sempat menyebut adanya "Kekeringan Seks Amerika Hebat". Saat itu mereka mencatat bahwa 23% orang dewasa mengaku tidak berhubungan seks dalam satu tahun terakhir. Pria muda yang tinggal di rumah dan tidak bekerja mendorong tren ini.

"Kami melihat peningkatan yang cukup mencolok dalam bagian orang yang tidak sering berhubungan seks, terutama dalam pangsa orang dewasa yang lebih muda," kata W. Bradford Wilcox, Direktur Proyek Pernikahan Nasional di University of Virginia, dikutip dari Today, Jumat (8/10/2021).

"Kita telah sampai pada hari sekitar 50 tahun setelah revolusi seksual dan apa yang kita lihat adalah penurunan seks di kalangan orang dewasa muda. Tidak ada seorang pun, termasuk saya sendiri, yang dapat memprediksi hal ini."

Tampaknya orang dewasa juga kurang tertarik untuk berkencan dan tidak mencoba hal itu. Wilcox menyebutnya sebagai "budaya hati-hati".

"Untuk apa pun yang lebih berisiko, termasuk seks, ada kecenderungan orang dewasa yang lebih muda untuk mendekatinya dengan lebih hati-hati daripada yang terjadi 30 tahun lalu," kata Wilcox.

Para ahli juga mengidentifikasi beberapa alasan mengapa orang pada umumnya kurang berhubungan seks. Terutama, orang-orang yang menunda pernikahan.

"Waktu yang dihabiskan di luar pernikahan cenderung mengarah pada berkurangnya aktivitas seksual," kata Christine Whelan, Direktur Inisiatif Uang, Hubungan dan Kesetaraan di Sekolah Ekologi Manusia di University of Wisconsin, Madison.

"Orang-orang yang bermitra dalam hubungan jangka panjang yang berkomitmen memiliki lebih banyak akses ke seks dan melakukannya lebih teratur," tambahnya.

Whelan juga percaya peningkatan ketergantungan pada smartphone dan layar sebagai alasan terjadinya resesi seks. Ponsel pintar dianggap mengurangi keintiman antar pasangan.

Selain itu, pandemi Covid-19 dan perubahan iklim (climate change) disebut-sebut menjadi salah satu biang keladi terbaru penyebab resesi seks. Kedua 'ancaman' dunia ini makin membuat banyak orang mengurungkan rencana pasangan untuk berhubungan secara seksual, menikah, dan menjadi orang tua.



Dari AS sampai China

Saat ini fenomena resesi seks disebut-sebut terjadi tidak hanya di AS. Tetapi juga China, Jepang, Korea Selatan (Korsel), hingga Singapura.

Di China pemerintah sampai turun tangan merevisi aturan memiliki anak. Kini pasangan di China bisa memiliki tiga anak.

Jepang mencatat jumlah kelahiran bayi turun menjadi 840.832 pada 2020, turun 2,8% dari tahun 2019 sebelumnya. Jumlah angka ini juga terendah sejak pencatatan dimulai pada 1899, sebagaimana dilansir dari Reuters.

Di Korsel sudah ada persatuan wanita yang menolak norma patriarkal dan bersumpah untuk tidak menikah. Mereka bahkan berjanji tak mau punya anak bahkan berkencan dan berhubungan seksual.

Di Singapura, dari data terbaru, jumlah pernikahan di negara itu turun drastis ke level terendah dalam 34 tahun terakhir. Sementara kelahiran warga juga tergelincir ke level terendah selama tujuh tahun.

Mengancam Ekonomi

Fenomena 'resesi seks' ini rupanya dapat menyebabkan depresi ekonomi. Ini bisa menjadi masalah serius untuk berbagai sektor mulai ritel hingga real estat.

"Penurunan tingkat seks dan tingkat pernikahan jelas terkait ... tidak perlu menjadi jenius ekonomi untuk mengetahui bahwa lebih sedikit pernikahan dan anak-anak melemahkan permintaan ekonomi secara keseluruhan," ujar Jake Novak analis dari Jake Novak News dimuat CNBC International.

Beberapa ahli fokus pada fakta bahwa generasi milenial berurusan dengan utang pinjaman yang terus meningkat. Ini membuat realitas ekonomi mereka jauh lebih buruk daripada ketika generasi sebelumnya seusia mereka.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading