Internasional

Rusia Disebut 'Biang Kerok' Krisis di Eropa, Kok Bisa?

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
06 October 2021 14:05
People walk through Red Square after a hot day in Moscow, Russia, Thursday, June 24, 2021. Residents of Russia's capital are wilting under hot temperatures that on Thursday hit an all-time high for June since records started being kept. The mid-afternoon temperature of 36 Celsius (96,8 Fahrenheit). (AP Photo/Alexander Zemlianichenko)

Jakarta, CNBC Indonesia -Krisis energi kini menyerang Eropa. Hal ini ditandai oleh defisit suplai gas alam ke benua itu yang juga ikut mengerek harga gas global hingga level tertinggi.

Beberapa negara pun sudah mulai membunyikan alarm peringatan akibat hal ini. Prancis dan Spanyol menyebut kenaikan ini akan berdampak pada naiknya tarif dasar listrik yang berujung inflasi.


Hal ini diperparah dengan Eropa yang sebentar lagi memasuki musim dingin. Di mana kebutuhan akan gas meningkat pesat.

"Krisis ini tidak adil, tidak efisien dan mahal bagi warga dan bisnis. Sudah waktunya mendapat tanggapan Eropa. Sudah waktunya melihat pasar energi," tegas Menteri Keuangan Prancis, Bruno Le Maire, dikutip dari Financial Times, Rabu (6/10/2021).

Dalam krisis ini, banyak pihak di Benua Biru mulai menyalahkan Rusia. Pasalnya suplai dari Negeri Beruang Merah itu menurun tajam yang diduga merupakan bagian dari manuver politik.

Hingga saat ini, Rusia merupakan supplier gas alam terbesar ke Eropa. Persentasenya mencapai 43,4%.

Bulan lalu40 anggota Parlemen Eropa telah menulis surat yang menuduh perusahaan Rusia, Gazprom, memanipulasi harga gas. Dalam surat tuduhan itu, para anggota parlemen itu menyebut bahwa berkurangnya aliran gas merupakan upaya Moskow untuk menekan Eropa agar mau mengaktifkan pipa gas Nord Stream 2.

Pipa gas Nord Stream 2 yang menjalar dari Rusia ke Jerman melalui Laut Baltik itu merupakan salah satu proyek antara kedua negara yang telah diselesaikan. Namun Jerman menolak aktivasinya akibat adanya sanksi dari mitra strategis Uni Eropa (UE), Amerika Serikat (AS), terhadap Rusia.

Diduga Kremlin mengurangi aliran gas ke Eropa yang melalui Ukraina. Ini agar UE dan Jerman mau mengaktivasi kembali pipa itu.

AS sendiri juga ikut bereaksi akan krisis ini. Menteri Energi AS Jennifer Granholm mengatakan bahwa Eropa saat ini terancam dengan adanya isu kenaikan harga gas yang dimainkan oleh Rusia.

"AS telah menjelaskan bahwa kami dan mitra kami harus siap untuk terus berdiri ketika ada pemain yang mungkin memanipulasi pasokan untuk menguntungkan diri mereka sendiri," kata Granholm dalam konferensi pers online di Warsawa, Polandia.

Sementara itu,Komisaris Ekonomi Uni Eropa Paolo Gentiloni mengatakan Komisi Eropa akan menyajikan paket kebijakan energi di Desember. Ini akan mengeksplorasi peran blok dalam pengadaan gas alam dan opsi penyimpanan yang lebih besar.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading