Fakta Mengejutkan Pandora Papers Seret Nama Putin & Luhut

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
06 October 2021 07:50
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan usai memenuhi undangan klarifikasi sebagai pelapor atas laporan pencemaran nama baik kepada Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (27/9/2021). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dokumen "Pandora Papers" beredar sejak pekan lalu. Hal ini membuat heboh karena banyak mencatut nama-nama pejabat, pengusaha hingga politisi negara di dunia.

Laporan dokumen berisi 11,9 juta file dengan volume data mencapai hampir 3 terabita ini berisi dokumen finansial rahasia kesepakatan bisnis dan kepemilikan perusahaan di negara suaka pajak.


Ini diterbitkan oleh konsorsium media International Consortium of Investigative Journalist (ICIJ), Minggu (3/10/2021) lalu.

Mengutip AFP, secara total ICIJ menemukan hubungan antara hampir 1000 perusahaan di negara surga pajak dengan 336 politisi tingkat tinggi dan pejabat publik berbagai negara.

Nama yang tercantum dalam Pandora Papers kebanyakan merupakan orang terkemuka di dunia. Mulai dari nama Presiden Rusia Vladimir Putin hingga Raja Yordania Abdullah II.

Untuk pejabat Indonesia, salah satunya yang masuk adalah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi RI (Menkomarves) Luhut Binsar Pandjaitan.

Namun, Luhut bukan satu-satunya orang Indonesia yang tercatat dalam dokumen tersebut. Ada beberapa nama pejabat RI yang dikabarkan masuk. Namun CNBC Indonesia masih mencoba memverifikasinya.

Dalam laporan itu, Luhut dikaitkan dengan perusahaan asal Republik Panama, yaitu Petrocapital S.A.

Juru Bicara Menkomarves, Jodi Mahardi, memberikan penjelasan perihal laporan itu. Jodi menjelaskan, Petrocapital S.A. merupakan perusahaan yang didirikan berdasarkan hukum di Panama.

Perusahaan itu didirikan pada tahun 2006 oleh Edgardo E.Dia dan Fernando A.Gil. Petrocapital memiliki modal disetor senilai US$ 5.000.000. Salah satu bidang usaha adalah minyak dan gas bumi.

"Bapak Luhut B. Pandjaitan menjadi Direktur Utama/Ketua Perusahaan pada Petrocapital S.A pada tahun 2007 hingga pada tahun 2010," ujar Jodi dalam pesan yang diterima CNBC Indonesia, Senin (4/10/2021).

Menurut dia, perusahaan itu rencananya akan digunakan untuk pengembangan bisnis di luar negeri, terutama di wilayah Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Namun, dalam perjalanannya, terdapat berbagai macam kendala terkait dengan lokasi geografis, budaya, dan kepastian investasi.

"Sehingga Bapak Luhut B. Pandjaitan memutuskan untuk mengundurkan diri dari Petrocapital dan fokus pada bisnis beliau yang ada di Indonesia," kata Jodi.

Lebih lanjut, dia mengatakan, selama Luhut menjabat di Petrocapital sampai dengan mengundurkan diri pada tahun 2010, perusahaan belum berhasil untuk mendapatkan proyek investasi yang layak.

"Selain itu juga tidak ada kerja sama dengan perusahaan minyak dan gas negara, dan tidak pernah ada perubahan nama dari Petrocapital menjadi Pertamina Petrocapital SA," ujar Jodi.

Terkait hal ini, Direktur Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan pun angkat bicara. DJP menyatakan belum menerima dokumen Pandora Papers yang beradar tersebut hingga saat ini.

"DJP belum menerima informasi atau dokumen terkait hal tersebut," ujar Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat DJP Neilmaldrin Noor kepada CNBC Indonesia, Selasa (5/10/2021).

Namun, ia memastikan akan menindaklanjuti isi dokumen tersebut kelak. Langkah yang akan diambil DJP dipastikan sesuai dengan peraturan yang ada.

"Prinsipnya DJP terbuka terhadap semua informasi dan masukan dan akan ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku," jelasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading