Internasional

Kabar Baru Utang AS Tembus Rp 400.000 T, Jadi Nambah?

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
30 September 2021 15:15
The American flag on the roof of the White House flies at half staff in Washington, Thursday, Aug. 26, 2021, in honor of U.S. service members and other victims killed in the terrorist attack in Kabul, Afghanistan. (AP Photo/Susan Walsh)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden terancam shutdown bahkan gagal bayar utang (default). Ini bakal kejadian, jika RUU kenaikan plafon utang tak disetujui hingga batas 1 Oktober ini.

Aturan itu sebenarnya sudah di-goal-kan DPR AS, yang mayoritas dari Partai Demokrat, pendukung Biden. Namun karena menganut dua kamar, RUU dibahas di Senat AS, di mana mendapat perlawanan dari Partai Republik, oposisi.


Meski demikian, untuk menghindari shutdown ternyata Partai Demokrat di Senat tak putus akal. Pemimpinnya menyebut sudah ada deal yang dibuat agar pemerintah federal tidak tutup.

Ini ditegaskan pemimpin Senat dari partai itu Chuck Summer, Kamis (30/9/2021). Ia mengatakan legislatif akan mengeluarkan RUU lain bagi pemerintah untuk tetap beroperasi hingga awal Desember, memberikan dana untuk penanganan bencana dan pengungsi Afghanistan.

"Besok, Senat akan memberikan suara pada undang-undang untuk mencegah penutupan yang tidak perlu, menyediakan dana darurat yang telah lama dicari untuk membantu orang Amerika yang masih belum pulih dari bencana, dan menyediakan dana untuk membantu pemukiman kembali pengungsi Afghanistan," cuitnya dalam akunTwitter resminya, dikutip CNBC Indonesia.

Namun RUU ini sendiri tetap memerlukan persetujuan di DPR AS. Jika semua berjalan mulus, RUU bisa disahkan menjadi UU besok.

Sebelumnya RUU yang sama telahgugur dalam forum senat dengan poin 48-50 suara. Kegagalan ini dimotori oleh Partai Republik yang khawatir bahwa utang AS saat ini sudah cukup besar.

Tercatat, utang Negeri Paman Sam saat ini sudah menembus Rp 410.129 triliun.Mitch McConnell, yang memimpin Partai Republik di Senat, menuduh bahwa RUU kenaikan plafon utang ini merupakan langkah partai Demokrat dalam menguras uang dari kantong rakyat dan membelanjakannya untuk sosialisme.

"Mereka ingin mencetak dan meminjam triliunan dolar, lalu membakarnya," katanya.

Sementara itu, pihak eksekutif mulai menyuarakan konsekuensi besar dari gagalnya RUU ini. Hal ini disampaikan Menteri Keuangan AS Janet Yellen langsung kepada Ketua DPR AS, Nancy Pelosi, dalam sebuah surat.

"Kami sekarang memperkirakan bahwa Departemen Keuangan kemungkinan akan kehabisan langkah-langkah luar biasa jika Kongres tidak bertindak untuk menaikkan atau menangguhkan batas utang pada 18 Oktober," tulisnya Rabu (29/9/2021).

Yellen juga membeberkan sederet bencana keuangan yang dapat mengancam negara itu bila RUU kenaikan plafon utang tidak segera disahkan. Ia berujar negara itu akan melihat lonjakan suku bunga jika plafon utang tidak dinaikkan.

"Saya pikir akan ada krisis keuangan dan bencana. Benar sekali, memang benar pembayaran bunga utang pemerintah akan meningkat."


[Gambas:Video CNBC]

(tps/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading