Tambang Bawah Tanah Siap 100% di 2022, Ini Rencana Freeport

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
24 September 2021 10:57
Indonesia lewat PT Indonesia Alumunium (Inalum) menguasai 51% saham PT Freeport Indonesia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, melakukan kunjungan kerja ke tambang Freeport di Timika, Papua pada 2-3 Mei 2019.

Dalam acara, Jonan mengunjungi tambang emas legendaris milik Freeport Indonesia, yaitu Grasberg, yang lokasinya 4.285 meter di atas permukaan laut.

Tambang Grasberg ini akan habis kandungan mineralnya dan berhenti beroperasi pada pertengahan 2019 ini. Sebagai gantinya, produksi meas, perak, dan tembaga Freeport akan mengandalkan tambang bawah tanah yang lokasinya di bawah Grasberg.

Dalam kunjungan tersebut, Jonan didampingi Presiden Direktur Freeport Indonesia Tony Wenas, Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin, serta sejumlah pejabat Kementerian ESDM.

Perjalanan menuju Grasberg dilakukan menggunakan bus khusus, dan sempat disambung dengan menggunakan kereta gantung atau disebut tram yang mengantarkan hingga ketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut, dan disambung dengan bus lagi hingga ke puncak Grasberg.

Cuaca gerimis serta oksigen yang tipis menyambut kedatangan Jonan dan rombongan di lokasi puncak Grasberg.

Dalam kunjungannya Jonan mengatakan, tantangan saat ini adalah membuat operasional Freeport terus berjalan dengan baik, dan produksi, keselamatan kerja, serta lingkungan dapat terjaga dengan baik.

Jonan meminta agar tidak ada hambatan dalam pengelolaan tambang Freeport pasca pengambilalihan 51% saham oleh Inalum.

Jonan juga meminta agar ke depan peranan Freeport terhadap masyarakat Papua makin besar, lewat pembangunan sarana dan prasarana seperti sekolah serta rumah sakit atau puskesmas. (CNBC Indonesia/Wahyu Daniel)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Freeport Indonesia (PTFI) memproyeksikan tahun depan tambang bawah tanah akan beroperasi dengan kapasitas penuh alias 100%.

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan saat ini kapasitas tambang bawah tanah telah mencapai 90%. Pengembangan tambang bawah tanah ini sudah dilakukan sejak belasan tahun lalu, tepatnya 2004 karena memang ditujukan untuk mengantisipasi semakin menurunnya cadangan yang berada di tambang terbuka.

Sejak tahun lalu perusahaan pun telah menutup tambang terbuka (open pit) dan sepenuhnya bergantung pada produksi dari tambang bawah tanah.


"Tambang bawah tanah ini sudah develop sejak tahun 2004. Dan mulai tahun 2015 ditambang dan kini sudah kira-kira 90% dari kapasitas normal dan tahun depan akan kapasitas penuh 100%," ungkapnya dalam program Mining Zone "Menggali Kontribusi Freeport untuk Papua dan Indonesia" CNBC Indonesia, Rabu (22/09/2021).

Dengan mulai beroperasinya tambang bawah tanah ini, Freeport memperkirakan akan memproduksi emas 1,5 juta ons dan produksi tembaga mencapai 1,5 miliar pon pada 2022.

Ini artinya, akan ada kenaikan dibandingkan produksi tahun ini. Hingga akhir 2021 ini diperkirakan Freeport memproduksi 1,3 juta ons emas dan hampir 1,3 miliar pon tembaga.

"Dan rencana tahun depan produksi penuh, 1,5 miliar pon tembaga dan 1,5 juta ons emas, begitu untuk beberapa tahun ke depan. Tahun depan tambang bawah tanah sudah kapasitas 100% dan seterusnya sampai 2041," lanjutnya.

Perkiraan produksi hingga akhir tahun ini juga diperkirakan mencapai dua kali lipat dari capaian produksi pada 2020 lalu. Berdasarkan data Freeport, produksi tembaga pada 2020 tercatat mencapai 809 juta pon dan emas 848 ribu ons.

Setor Dividen Rp 14 Triliun
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading