Sederet Langkah Pemerintah Dorong Ekonomi di Tengah Pandemi

News - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
23 September 2021 17:55
Kepala Pusat Kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Ubaidi Socheh Hamidi

Jakarta, CNBC Indonesia- Penanganan pandemi Covid-19, vaksinasi, dan kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan menjadi salah satu kunci menggerakan perekonomian.

Kepala Pusat Kebijakan APBN BKF Kementerian Keuangan Ubaidi Socheh Hamidi mengatakan di Indonesia pemulihan ekonomi di kuartal II-2021 terlihat sudah merata di komponen pengeluaran, investasi, hingga ekspor impor.

"Pemerintah juga akan terus melindungi masyarakat yang terdampak pandemi, dan penanganan pandemi yang sudah cukup baik dari pelajaran varian delta mudah-mudahan bisa digunakan ke depannya," kata Ubaidi pada Webinar bertajuk "Prospek Ekonomi Indonesia Setelah Lepas dari Resesi", Kamis (23/9/2021).


Menurutnya, pemerintah masih menjaga defisit APBN tetap dinamis hingga tahun depan, sehingga pada 2023 defisit APBN bisa kembali di bawah 3%. Ubaidi mengatakan saat ini ketidakpastian masih tinggi, sehingga APBN mencoba fleksibel dan responsif terhadap kondisi yang ada.

Di masa awal pandemi 2020, Ubaidi mengatakan APBN bekerja sangat fleksibel dan responsif serta disertai extraordinary policy. Untuk 2021-2022 pemerintah masih mengambil tema pemulihan dan reformasi struktural, dengan defisit yang dinamis, apalagi ketidakpastian tinggi sehingga APBN harus fleksibel dan responsif.

"Saat puncak kasus, ekspor Indonesia tetap tumbuh tinggi di masa merebaknya varian delta, di neraca perdagangan menunjukkan kinerja baik. Tapi kita tetap harus mewaspadai meluasnya varian baru dan biaya logistik yang tinggi," ujarnya.

Efektivitas PPKM pun berperan penting untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi tahun ini. Ubaidi mengatakan dengan kebijakan PPKM, pandemi Covid-19 cukup terkendali dan dampak ekonominya tidak terlalu dalam.

"Saat terjadi PPKM level 4 kami khawatir ekonomi tidak tumbuh baik. Tapi ternyata kondisinya cukup baik, dan pada Juli tetap menunjukan kinerja ekonomi yang baik, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahunan 3,7-4,5%," ungkap Ubaidi.

Pada Agustus dan September, pemerintah mencatat aktivitas masyarakat mengalami tren kenaikan,begitu juga aktivitas konsumsi dan produksi manufaktur. Selain itu, konsumsi listrik pada industri pun sudah mulai meningkat yang menandakan peningkatan aktivitas produksi.

Selain ekspor, berjalannya proyek infrastruktur selama pandemi Covid-19 juga berperan penting dalam pemulihan ekonomi termasuk kontribusinya pada PDB. Ubaidi mengungkapkan konstruksi merupakan sektor yang diperbolehkan di masa PPKM, khususnya untuk proyek PSN.

"Tentunya tetap berjalan dengan dilandasi protokol kesehatan yang ketat, sektor bangunan merupakan kontributor besar pada komponen investasi lebih dari 70%," kata dia.

Untuk 2022 anggaran infrastruktur yang ditetapkan Rp 384,8 triliun dengan beberapa proyek, seperti jalan baru, jembatan, rumah susun, rehabilitasi jaringan irigasi, dan berbagai proyek lainnya. Sementara untuk pembangunan teknologi informasi dan komunikasi dialokasikan Rp 27,4 triliun, terutama utk akses internet di lokasi pelayanan publik.

"Selain itu juga untuk dukungan teknologi informasi yang lain, termasuk Palapa Ring dan transformasi digital. Ada yang berasal dari pemerintah pusat, tapi ada juga transfer daerah dan ada juga dari sisi pembiayaan," tutur Ubaidi.

Seperti Indonesia, pemulihan ekonomi global bergantung pada penanganan pandemi, masifnya vaksinasi, hingga stimulus perekonomian. Ubaidi mengungkapkan yang menjadi tantangan adalah pemulihan yang tidak merata karena kesenjangan vaksinasi.

"Pembukaan kembali ekonomi yang meningkat di tiap negara mulai terlihat, downside risknya untuk vaksinasi ini masih ada ketimpangan. Kemudian ada stabilitas keuangan China yang perlu diwaspadai dari situasi gagal bayar yang terjadi," ungkapnya.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading