Internasional

Awas! RI Dikepung 'Perang Nuklir' Australia-China

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
21 September 2021 06:39
The French aircraft carrier Charles de Gaulle arrives in the bay of Toulon, southern France, Sunday April 12, 2020. The Defense Ministry said in a statement that around 40 sailors showed symptoms compatible with COVID-19, the disease the coronavirus causes. The new coronavirus causes mild or moderate symptoms for most people, but for some, especially older adults and people with existing health problems, it can cause more severe illness or death. (AP Photo/Daniel Cole)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia dan negara Asia Tenggara terancam 'dikepung' senjata nuklir. Ini dipicu oleh munculnya kemitraan baru di Indo Pasifik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Inggris dan Australia disebut AUKUS.

AS dan Inggris akan membantu Canberra untuk memperoleh kapal selam bertenaga nuklir. Ini akan memungkinkan angkatan laut Australia melawan sejumlah negara yang dianggap 'musuh' di kawasan seperti China.


"Ini akan memberi Australia kemampuan kapal selam mereka untuk dikerahkan untuk waktu yang lebih lama, lebih tenang, lebih mampu, memungkinkan kita untuk mempertahankan dan meningkatkan pencegahan di seluruh Indo-Pasifik," kata seorang pejabat senior administrasi AS dikutip CNBC Internasional pekan lalu.

"Apa yang kami lihat di kawasan Indo-Pasifik adalah serangkaian keadaan untuk menjadi lebih mumpuni. Ini memungkinkan Australia untuk bermain di level yang jauh lebih tinggi, dan untuk meningkatkan kemampuan Amerika."

Perlu diketahui, AUKUS memang dibentuk di tengah meningkatnya pengaruh dan ancaman China pada kawasan Asia Pasifik. Sebagian negara menilai ini bisa memicu geliat "perang perlombaan senjata nuklir" di kawasan.

Menurut Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm, China sendiri juga diketahui memiliki 350 unit senjata nuklir, ketiga terbanyak setelah AS dan Rusia. Di Asia, selain China, negara lain yang memiliki nuklir adalah Korea Utara (Korut), India, Pakistan dan Israel.

Indonesia dan Malaysia adalah yang kompak meneriakkan kekhawatiran ini. Mengingat Asia Tenggara merupakan area bebas senkata nuklir (SEANWFZ) sejak 1971.

"Indonesia sangat prihatin atas terus berlanjutnya perlombaan senjata dan proyeksi kekuatan militer di kawasan," kicau Kemlu melalui akun Twitter @Kemlu_RI, dikutip Senin (20/9/2021).

"Indonesia mendorong Australia dan pihak-pihak terkait lainnya untuk terus mengedepankan dialog dalam menyelesaikan perbedaan secara damai. Dalam kaitan ini, Indonesia menekankan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional termasuk UNCLOS 1982 dalam menjaga perdamaian dan keamanan di kawasan."

Malaysia sendiri melihat AUKUS bisa menstimulus tindakan lebih agresif dari negara-negara yang berseteru. Terutama di kawasan Laut China Selatan (LCS) yang memang sudah mengalami ketegangan saat ini.

Sebagaimana diketahui LCS jadi titik panas sejumlah negara kala China mengklaim 90% wilayah itu dengan "sembilan garis putus-putus". Ini membuat China bersitegang dengan Vietnam, Filipina, Malaysia termasuk RI di Natuna Utara.

AS kemudian masuk ke persoalan ini dengan alasan "kebebasan navigasi". AS kerap wara-wiri dengan kapal perang di sejumlah negara sekutu, seperti Filipina.

AS juga gencar 'merayu' sejumlah negara untuk bersama-sama menghalau China. Wakil Presiden AS, Kamala Harris bulan lalu sempat mendatangi Singapura dan Vietnam untuk hal serupa.

"Ini akan memprovokasi kekuatan lain untuk juga bertindak lebih agresif di kawasan itu, terutama di LCS," kata Kantor Perdana Menteri Malaysia dalam sebuah pernyataan, dilansir dari Reuters, Senin.

"Sebagai negara di ASEAN, Malaysia memegang prinsip menjaga ASEAN sebagai Zona Damai, Kebebasan, dan Netralitas (ZOFPAN)."


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading