Myanmar Masuk Perang Saudara, Apa Komentar Aung San Suu Kyi?

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
20 September 2021 21:00
Myanmar Leader Aung San Suu Kyi leaves after the Central Executive Committee meeting at her National League for Democracy (NLD) party headquarters in Naypyitaw, Myanmar Tuesday, July 21, 2020. Suu Kyi, who holds the title of State Counsellor, led her National League for Democracy party to a landslide victory in the 2015 general election, and a party spokesman said Tuesday that both she and President Win Myint will stand in the new polls scheduled for this November. (AP Photo/Aung Shine Oo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kondisi diĀ Myanmar saat ini belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Yang terjadi justru sebaliknya, di mana konflik antara kelompok anti-kudeta dan pihak militer makin sering terjadi.

Meski begitu, eks pemimpin tertinggi Myanmar yang ditangkap dan dikudeta oleh militer, Aung San Suu Kyi, belum mengeluarkan pernyataan sama sekali akan hal ini. Pengacara Suu Kyi, Khin Maung Zaw, menyebut Suu Kyi membutuhkan konsultasi dengan partner separtainya.

"Dia bilang dia tidak pernah berbalik melawan keinginan orang-orang," ujarnya dikutip AFP, Senin (20/9/2021).

Ketegangan di Myanmar makin memuncak setelah anggota parlemen dari partai Suu Kyi, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), menyatakan "perang defensif rakyat" awal bulan ini dengan mendesak warga agar menyerang aset milik junta militer.



"Setelah deklarasi tersebut, bentrokan antara pasukan pertahanan rakyat lokal dan militer telah meningkat, dan lebih dari selusin menara komunikasi milik tentara telah diserang," ujar kelompok-kelompok anti-junta.

Suu Kyi sendiri sebenarnya diketahui mengedepankan prinsip non-kekerasan. Wanita peraih Nobel itu mengaku ciri khas kelompok demokrasinya adalah mengutamakan proses-proses yang damai.

Tetapi, banyak demonstran muda mengambil gerakan perlawanan. Mereka melihatnya sebagai satu-satunya cara untuk secara permanen membasmi dominasi militer dalam politik dan ekonomi negara itu.

Sejauh ini, menurut kelompok aktivis Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, lebih dari 1.100 orang tewas dan lebih dari 8 ribu orang ditangkap oleh militer Junta sejak demonstrasi dan konflik berdarah akibat penentangan kudeta terjadi di negara itu.



[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Lama 'Hilang', Suu Kyi Muncul Perdana di Sidang Junta Myanmar


(miq/miq)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading