Bahlil: Negara Tetangga Tak Mau RI Jadi Pemain Baterai Dunia

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
17 September 2021 17:40
Bahlil Lahadalia dalam acara konferensi pers virtual realisasi Investasi Triwulan II 2021. (Dok: BKPM TV) Foto: Bahlil Lahadalia dalam acara konferensi pers virtual realisasi Investasi Triwulan II 2021. (Dok: BKPM TV)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Investasi/ Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan ada negara-negara tetangga yang tidak ingin RI membangun pabrik baterai kendaraan listrik (EV).

Dalam konferensi pers, Jumat (17/09/2021), dia menyebut bahwa negara tetangga tidak ingin jika Indonesia bisa menjadi salah satu produsen baterai kelas dunia. Namun, Bahlil tidak mau menyebutkan negara yang dimaksud tersebut.

Seperti diketahui, pada Rabu lalu (15/09/2021), baru saja dilakukan groundbreaking pabrik baterai EV di Karawang, Jawa Barat yang memiliki kapasitas produksi sel baterai EV 10 Giga Watt (GW).

"Kita groundbreaking itu adalah baterai 10 Giga pertama, kenapa ini kita lakukan karena kita sadari negara-negara tetangga kita, saya tidak perlu sebutkan negaranya, itu tidak ingin Indonesia menjadi salah satu negara produsen baterai di dunia," ungkapnya.

Menurutnya, negara tetangga tersebut maunya hanya mengambil bahan baku dari RI, kemudian mereka bangun pabrik baterai EV di negaranya, sehingga bisa made-in negara A atau negara B.

"Kita baca gelagat ini, kita kerja sama dengan investor, kita hajar bukan hulunya dulu tapi hilirnya, ini baru pertama juga. Kita mainkan baterai selnya, bangun prekursor katoda sampai smelter," lanjutnya.

Dia mengatakan, pabrik baterai EV di Karawang, Jawa Barat ini, selain menjadi yang pertama di Indonesia, menurutnya ini juga menjadi yang pertama di Asia Tenggara. Dan untuk dunia, menurutnya kalau ekosistem baterai terintegrasi dari hulu hingga hilir ini dibangun, ini akan menjadi pertama di dunia.

"Dari tambang, smelter, prekursor katoda, mobil, baterai sel, dan recycle. Ini pertama akan terbangun semua," paparnya.

Menurutnya, hilirisasi ini adalah permintaan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menginginkan transformasi ekonomi, bergesernya kontribusi ekonomi dari konsumsi ke investasi, serta menciptakan lapangan kerja yang berkualitas.

"Kita harus mampu lahirkan substitusi impor dan menaikkan nilai tambah. Ini adalah momentum terbaik kita lakukan bersama-sama," ungkapnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sebelum Era Jokowi Kelar, Pabrik Baterai EV RI Beroperasi!


(wia)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading