Harga Sudah 'Hancur', Penjualan Sepeda Juga Babak Belur

News - Ferry Sandi , CNBC Indonesia
15 September 2021 18:45
Pekerja memeriksa sepeda lipat brompton yang dijual di SpinWarriors, Tangerang Selatan, Kamis (15/9/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)) Foto: Pekerja memeriksa sepeda lipat brompton yang dijual di SpinWarriors, Tangerang Selatan, Kamis (15/9/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto))

Jakarta, CNBC Indonesia - Penjualan sepeda terus mengalami penurunan tajam bila dibandingkan 2020 saat booming sepeda. Kalangan pedagang sepeda pun mengakui omsetnya jauh menurun bahkan hingga 90%. Kondisi ini sudah terjadi selama beberapa bulan terakhir.

"Dulu 100%, sekarang cuma 10%, dulu ramai sekarang lagi sepi. Dulu Rp 100 juta bisa keluar, yang (edisi) lama-lama (dikeluarin) laku. Bahkan kalau lagi ramai sepeda seken juga laku," sebut Lina, Pemilik Toko Sepeda Tiga Saudara yang berlokasi di Jl Kedoya Pesing 2, Kebon Jeruk, Jakarta Barat kepada CNBC Indonesia, Rabu (15/9/21).

Selain sepeda baru, maka sepeda second juga menjadi tulang punggung penjualan. Namun, saat ini sudah berbeda, utamanya ditambah PPKM darurat bulan Juli lalu. Meski sudah diubah dengan PPKM level dan Jakarta sudah masuk level 3, hasilnya tidak jauh berubah. Apalagi dalam beberapa hari terakhir cuaca mendung sedang menyelimuti.


"Ketika lagi banyak yang beli ramai, kalau sepi yang keluar nggak banyak, lagi sepi PPKM. Lagi ramai bisa banyak. Kemarin lagi hujan-hujan juga sepi," sebut Lina.

Penjualan sepeda cenderung jatuh seiring menurunnya tren gowes masyarakat. Beberapa bulan lalu, harga sempat melonjak tinggi, namun kini mulai turun dan mengikuti harga normal. Kondisi ini juga terjadi pada segmen sepeda menengah atau yang berada di kisaran Rp 5 juta Rp 10 juta. Semua brand sepeda pun ikut terkena dampaknya.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading