Masalah di Proyek MRT & Kereta Cepat Andalan Jokowi, Apa Itu?

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
11 September 2021 07:50
Infografis: Capai 350km/jam, ini spesifikasinya Kereta Cepat jakarta-bandung

Jakarta, CNBC Indonesia -Berita mengejutkan datang dari dua proyek besar infrastruktur transportasi raksasa andalan pemerintahan Presiden Jokowi. Keduanya adalah proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dan Mass Rapid Transit (MRT) Fase 2.

Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung tengah menghadapi pembengkakan biaya yang besar. Ini akibat dari keterlambatan pembebasan lahan.


Hal ini dikatakan Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Wijaya Karya Ade Wahyu. Pembengkakan biaya masih dihitung oleh PT Kereta Cepat Indonesia China.

"Jadi cost over run masih digodok dari internal Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) dan sponsor saat ini sedang dalam tahap akhir mungkin besaran nilai dari cost over run selesai pada bulan Oktober," katanya dalam Public Expose, pekan ini.

Wijaya Karya dalam hal ini adalah pemimpin konsorsium dari kepemilikan pemerintah Indonesia melalui PT Pilar Sinergi BUMN sebesar 60%. Namun ditegaskan sampai saat ini target pengoperasian kereta cepat ini belum berubah yakni akhir 2022.

Awalnya biaya proyek yang menggandeng China ini dinilai mencapai US$ 6,07 miliar atau sekitar Rp 85 triliun. Kemudian, di tengah jalan proyek ini diperkirakan tambah bengkak US$ 1,7-2,1 miliar sekitar Rp 24,14-29,82 triliun (kurs Rp 14.200).

Data Juni 2021, progres pembangunan sudah mencapai 74%. PT Kereta Cepat Indonesia China optimis bisa melakukan uji pertama kali pada September hingga November 2022

Untuk diketahui kepemilikan Indonesia didapat melalui konsorsium BUMN bernama PT Pilar Sinergi BUMN (PSBI), sebesar 60%. Kepemilikan China berasal dari Beijing Yawan dengan porsi 40%.

PT PSBI terdiri dari PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) sebesar 38% sebagai pemilik terbesar di perusahaan ini, sisanya dimiliki oleh PT Kereta Api (Persero) 25%, PT Perkebunan Nusantara VII 25%, dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) sebesar 12%.

MRT Fase 2

Sementara MRT Fase 2 juga belum mendapat persetujuan harga dengan pihak kontraktor Jepang. Sehingga berpeluang pada perlambatan penyelesaian proyek.

Mengutip keterangan resmi Kementerian Perhubungan, pada proyek MRT Fase 2, harga penawaran terlalu tinggi dari kontraktor Jepang. Hal ini juga yang memicu Menteri Perhubungan Budi Karya Sumaditerbang ke Negeri Sakura dan meminta penyesuaian agar pembangunan fisik bisa segera dilanjutkan.

"MRT ini proyek penting kita sampaikan bahwa harga harus sesuai dan kualifikasi harus diikuti, ini saya sampaikan kepada pejabat dan akan memberikan nasihat agar mereka mengikuti sesuai dengan ketentuan Indonesia. Kegiatan yang akan mengharuskan mengikuti harga dan ketentuan itu akan diikuti kontraktor Jepang," jelasnya dalam konferensi pers pekan ini.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading