Melihat Gambaran Ekonomi RI 2022, Meroket atau Malah Tekor?

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
03 September 2021 15:15
Infografis: Catat! 6 Hal yang Wajib Dilakukan Kalau (Amit-amit) Resesi

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas mengungkapkan selama ini, sasaran pertumbuhan ekonomi jangka menengah sulit tercapai. Lantas bagaimana dengan ekonomi tahun depan?

Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa menjelaskan, rata-rata pertumbuhan ekonomi setelah krisis finansial Asia lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata sebelum krisis, dan dalam beberapa tahun terakhir cenderung stagnan pada kisaran 5% per tahun.


Seperti diketahui, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia sebelum krisis 1998 sebesar 7,1% per tahun. Lalu menyusut dengan rata-rata pertumbuhan 5,7% per tahun pada RPJMN 2005-2009.

Pun, pada RPJMN 2010-2014, rata-rata pertumbuhan ekonomi RI hanya mencapai 5,8%. Terus menyusut menjadi 5% per tahun pada RPJMN 2015-2019.

"Sejak 2014, ekonomi Indonesia tumbuh di bawah pertumbuhan potensialnya. Pasca Covid-19 pertumbuhan ekonomi potensial diperkirakan berada di bawah 5%, jika tidak ada upaya ekstra (business as usual)," jelas Suharso saat ditemui di kantornya, Kamis (2/9/2021).

Dampaknya, jika pertumbuhan ekonomi rata-rata 5% per tahun, tanpa upaya ekstra, maka kesenjangan pendapatan per kapita akan semakin melebar.

Sementara jika pertumbuhan ekonomi rata-rata 6% melalui redesain transformasi ekonomi, dapat memperkecil gap pendapatan per kapita dan mendekati trajectory visi Indonesia menjadi negara maju pada 2045.

Oleh karena itu, kata Suharso tahun 2022 menjadi tahun penting untuk pemulihan ekonomi nasional. Karena tahun depan adalah tahun yang strategis bagi negara-negara di seluruh dunia untuk melakukan transisi dari pandemi Covid-19 menuju endemi.

"Dengan intervensi kebijakan yang tepat, pertumbuhan ekonomi potensial Indonesia sepanjang 2022-2045 diperkirakan sebesar 6,3%. Jadi kita berharap tahun ini dan tahun 2022, ekonomi bisa tumbuh di atas potensialnya," jelas Suharso.

"Namun, dengan skenario baseline, output potensial diperkirakan akan turun, rata-rata 2022-2045 sebesar 4,1%," kata Suharso melanjutkan.

Jika Indonesia bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 5%, pendapatan per kapita Indonesia bisa mencapai US$ 15.000 pada 2045.

"Mestinya US$ 12.500 treshold untuk menjadi middle income ke high economy. Kalau hanya tumbuh 5%, maka cita-cita untuk menjadi high economy pada 2045 itu tertunda," jelas Suharso.

"Bahkan boleh jadi pada 2045 masih di middle income, jadi belum graduasi dari middle income, kalau kita mengerjakan seluruh kegiatan ini bussines as usual," ujar Suharso lagi.

Untuk diketahui, akibat pandemi Covid-19, Indonesia mengalami penurunan pendapatan per kapita. Pendapatan per kapita pada tahun 2020 tercatat US$ 3.870 atau turun dari 2019 yang sebesar US$ 4.050.

Selain mengalami penurunan pendapatan per kapita, Indonesia juga turun kelas ke negara berpendapatan menengah ke bawah (lower middle-income country) setelah pada tahun lalu masuk ke dalam kategori negara upper middle-income.

Pasalnya, menurut Bank Dunia, ambang batas minimal untuk sebuah negara bisa masuk kategori negara berpendapatan menengah ke atas di tahun ini naik menjadi US$ 4.096.

Di 2019, klasifikasi Gross National Income (GNI) per kapita untuk negara Low Income di level US$ 1.035, Lower Middle Income di level US$ 1.035- US$ 4,045, Upper Middle Income di level US$ 4.046 - US$ 12.535, dan High Income di level lebih dari US$ 12.535.


[Gambas:Video CNBC]

(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading