Mal-Mal Makin Sekarat, di Bandung Muncul Fenomena Mal Dijual

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
27 August 2021 11:40
Karyawan mengangkat papan Bazar Matahari di Kawasan Mall Blok M, Jakarta, Selasa, 24/3. Patuhi social distancing, sejumlah tenant di mal Jakarta tutup sementara. sebagai salah satu upaya pencegahan penularan dan penyebaran virus corona tipe baru. Penutupan sementara berlangsung mulai Senin kemarin. Salah satu tenant Bazar Matahari ini mulai berkemas-kemas untuk menaruh barangnya di gudang. Pantauan CNBC Indonesia lokasi tenant yang berada di lantai 1 Mall Blok M ini tadinya menjajakan dagangannya seperti pakaian dan sepatu yang dijual secara diskon. Karyawan penjaga Bazar Matahari yang tidak mau disebutkan namanya

Jakarta, CNBC Indonesia - Korban pandemi terus berjatuhan, banyak pelaku usaha menjual asetnya. Setelah para pengusaha hotel mengobral hotel-hotelnya kini giliran pengusaha pusat belanja atau mal.

Di media sosial muncul kehebohan soal 5 mal di Bandung yang masuk daftar jual. Salah satu yang cukup disorot adalah Ujung Berung Town Square (Ubertos). Di sosial media beredar info mal ini dijual dengan harga Rp 450 miliar. Luas lahannya tercantum 26.010 meter persegi dan terdiri dari 4 lantai. Lahan parkir Mall Ubertos diklaim mampu menampung 500 mobil dan 1.000 motor.

Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Bandung Raya, Hadiyanto Lie tak menampik soal kabar ini. Ia bahkan mengakui bila kondisi makin sulit meski di tengah pelonggaran kegiatan bisnis, napas pengusaha mal sudah habis untuk bertahan.


"Nggak menutup kemungkinan itu terjadi kalau kondisi mal begini terus, karena pengusaha mana yang mana akan kuat, bukan cuma sektor mal, tapi industri juga banyak yang gulung tikar. Ekonomi nggak jalan," kata Hadiyanto Lie kepada CNBC Indonesia, Jumat (27/8/21).

Ia menyadari bahwa melepas aset saat kondisi seperti ini tidak mudah. Banyak pengusaha yang lebih menahan diri untuk tidak ekspansi dibandingkan jor-joran investasi, utamanya di sektor yang mendapat banyak pembatasan.

"Karena kan jual mal nggak gampang, ratusan miliar, dengan kondisi gini pengusaha mana yang mau investasi seperti itu?" tanyanya.

Di sisi lain, jika ingin bertahan juga tidak mudah karena mal masih sepi. Menurunnya daya beli masyarakat serta rasa takut untuk keluar rumah menjadi penyebab mal masih terhitung sepi hingga saat ini.

"Kunjungan belum bagus, walau sudah dibuka 50%, okupansi paling bagus 15%, cuma kita masih lihat buat besok weekend, biasanya kan naik," ujar Hadiyanto.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading