Internasional

Malaysia Suram: Covid Meledak Lagi, Tak Punya Perdana Menteri

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
19 August 2021 11:10
A woman wearing a face mask walks in front of the Twin Towers during the first day of third Movement Control Order (MCO) in Kuala Lumpur, Malaysia, Friday, May 7, 2021. Kuala Lumpur and few other cities will be placed under the Movement Control Order (MCO) as the number of COVID-19 cases and clusters continue to rise. (AP Photo/Vincent Thian) Foto: AP/Vincent Thian

Jakarta, CNBC Indonesia - Malaysia sedang dilanda dua musibah sekaligus. Negeri Jiran kini harus menghadapi kasus Covid-19 yang terus rekor di tengah panasnya perpolitikan negara itu.

Kemarin, Malaysia kembali mencatat rekor kasus infeksi Covid-19 harian, yakni 22.242 kasus baru. Dilansir dari The Star, Direktur Jenderal Kesehatan Tan Sri Dr Noor Hisham Abdullah mengatakan total kumulatif infeksi Covid-19 di negara itu kini telah mencapai 1.466.512.

Dalam sebuah tweet, Nor Hisham mengatakan wilayah Selangor memiliki kasus terbanyak dengan 6.858 infeksi baru. Disusul Sabah dengan 2.413 kasus, Penang (1.867) dan Kedah (1.852).

Setidaknya kini ada 254.484 kasus aktif secara nasional. Dari jumlah itu, 1.060 berada di unit perawatan intensif, lebih dari setengahnya (540 kasus) menggunakan ventilator.

Negeri Jiran juga mencatat 225 kasus lebih banyak kematian akibat Covid-19. Ini menjadikan total jumlah korban nasional mencapai 13.302 jiwa.

Situasi ini terjadi di tengah kekosongan kursi perdana menteri (PM). Muhyiddin Yassin mengundurkan diri dari jabatan PM Malaysia, Senin (16/8/2021), setelah 17 bulan menjabat.

Pemerintahan Muhyiddin resmi berakhir setelah suara parlemen mayoritas menarik dukungan terhadapnya. Ia menjadi perdana menteri dengan masa jabatan terpendek di sejarah negeri itu.

Raja Malaysia, Yng di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri'ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah, disebut akan mengadakan pertemuan dengan sembilan penguasa negara bagian Negeri Jiran. Pertemuan diagendakan pada Jumat (20/8/2021).

Dilansir dari The Straits Times, pertemuan ini dilakukan untuk menetapkan PM baru. Meski begitu, 220 anggota parlemen sudah harus menyerahkan nama-nama pengganti PM pilihan mereka kemarin.

Sebelumnya, beberapa analis menilai bahwa tingginya kasus Covid ini disebabkan oleh respon penanganan wabah yang kurang baik dan tanggap. Meski sudah lockdown berkali-kali, dinamika politik yang menjadi sebuah momok bagi penanganan pandemi.

"Respons Malaysia terhambat oleh pemerintahan yang kacau dan pertikaian politik yang terus-menerus," ujar Joshua Kurlantzick, peneliti Asia Tenggara di lembaga think tank Council on Foreign Relations.

Malaysia menerapkan status darurat sejak Januari hingga 1 Agustus kemarin. Lockdown melalui aturan kontrol pergerakan (MCO) juga diterapkan secara nasional sejak awal Juli.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kasus Covid-19 di Malaysia Bisa Lebih Mengerikan, Waspada!


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading