Top! 15 Bulan Beruntun RI Tak Lagi 'Tekor' Berdagang

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
18 August 2021 14:35
FILE PHOTO: A van carrier transports a container at the container terminal

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sejak Mei 2020 hingga Juli 2021, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus.

"Tren surplus dari 2020, surplus ini membukukan 15 bulan beruntun," jelas Kepala BPS Margo Yuwono saat melakukan konferensi pers virtual, Rabu (18/8/2021).

Surplus 15 bulan beruntun tersebut, kata Margo mengindikasikan ekonomi telah membaik. Adapun surplus tertinggi terjadi pada Oktober 2020 yang mencatatkan nilai sebesar US$ 3,58 miliar.


Sementara pada tahun ini, surplus tertinggi terjadi pada Mei 2021 dengan nilai mencapai US$ 2,7 miliar.

Secara rinci, nilai surplus neraca perdagangan Indonesia sejak Mei 2020 hingga Juli 2021, yakni Mei 2020 US$ 2,01 miliar, Juni 2020 US$ 1,25 miliar, Juli 2020 US$ 3,23 miliar, Agustus 2020 US$ 2,31 miliar, September 2020 US$ 2,39 miliar.

Kemudian pada Oktober 2020 nilai surplus neraca dagang RI sebesar US$ 3,58 miliar, November 2020 US$ 2,59 miliar, Desember 2020 US$ 2,1 miliar.

Lalu, nilai surplus pada tahun ini, yakni Januari 2021 US$ 1,96 miliar, Februari 2021 US$ 1,99 miliar, Maret 2021 US$ 1,57 miliar, April 2021 US$ 2,29 miliar, Mei 2021 US$ 2,7 miliar, dan Juni 2021 US$ 1,32 miliar.

Adapun pada Juli 2021, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar US$ 2,59 miliar. Realisasi tersebut lebih tinggi dibandingkan surplus pada Juni 2021 yang sebesar US$ 1,32 miliar, namun masih lebih rendah dari surplus neraca perdagangan pada Juli 2020 yang sebesar US$ 3,26 miliar.

Margo mengatakan surplus terjadi karena nilai ekspor mencapai US$17,70 miliar pada Juli 2021. Sementara nilai impor lebih kecil jika dibandingkan ekspor, yakni US$15,11 miliar.

Pada realisasi ekspor, terjadi penurunan 4,53% jika dibandingkan Juni 2021 yang sebesar US$ 18,54 miliar. Sementara secara tahunan atau year on year (yoy) menguat tajam 29,32% jika dibandingkan Juli 2020 yang sebesar US$ 13,69 miliar.

"Penurunan ekspor disebabkan karena turunnya ekspor minyak dan gas (migas) dan nonmigas). Ekspor migas turun 19,55% jika dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar US$ 1,23 miliar. Serupa, ekspor nonmigas turun 3,46% dari US$ 17,31 miliar menjadi US$ 16,71 miliar," jelas Margo.

Berdasarkan golongan barang, komoditas ekspor yang meningkat yakni lemak dan minyak hewan nabati, berbagai produk kimia, pupuk, pakaian dalam dan aksesorisnya, serta nikel dan barang daripadanya.

Sementara, komoditas ekspor yang menurun diantaranya tembaga dan barang daripadanya, mesin dan perlengkapan elektrik, mesin dan peralatan mekanis, kendaraan dan bagiannya, serta besi dan baja.

Berdasarkan negara tujuan ekspor, kenaikan ekspor terjadi ke India mencapai US$272,7 juta, Pakistan US$91,6 juta, Taiwan US$88,6 juta, Mesir US$64,1 juta dan Italia US$58,2 juta.

Sedangkan penurunan nilai ekspor terjadi ke sebesar China sebesar US$566,4 juta, Jepang US$169,2 juta, Filipina US$136,4 juta, AS US$114,1 juta, dan Thailand US$111,5 juta.

Adapun pada realisasi impor pada Juli 2021, nilainya turun 12,22% secara bulanan dari US$ 17,22 miliar pada Juni 2021, menjadi US$ 15,11 miliar. Namun, dibandingkan dengan Juli 2020, meningkat 44,44% yang sebesar US$ 10,46 miliar.

Impor terdiri dari impor migas sebesar US$ 1,78 miliar atau turun 22,28% dari US$ 2,30 miliar pada bulan sebelumnya. Sementara impor nonmigas senilai US$ 13,33 miliar atau berkurang 10,67% dari sebelumnya US$14,92 miliar.

Berdasarkan golongan barang, komoditas yang mengalami kenaikan impor adalah produk farmasi, bijih terak dan abu logam, ampas sisa industri, kendaraan bermotor, serta garam belerang batu dan semen.

Sedangkan, komoditas yang mengalami penurunan impor adalah kereta api, trem dan bagiannya, plastik dan barang dari plastik, logam mulia dan perhiasan permata, besi dan baja, serta mesin dan peralatan mekanis.

Berdasarkan negara asal, terjadi peningkatan impor dari India US$111,8 juta, Argentina US$20 juta, Spanyol US$15,4 juta, Turki US$15,2 juta, dan Norwegia US$12,6 juta.

Sedangkan, impor mengalami penurunan dari China US$325,3 juta, Singapura US$194,1 juta, Thailand US$170,9 juta, Jepang US$150 juta, dan Malaysia US$143,1 juta.


[Gambas:Video CNBC]

(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading