Nota Keuangan & RAPBN 2022

Tahun Depan, Jokowi Harus Bayar Bunga Utang Rp 405 Triliun!

Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
News
Senin, 16/08/2021 14:45 WIB

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah harus memenuhi pembayaran bunga utang dalam RAPBN 2022 sebesar Rp 405,87 triliun. Angka tersebut naik 10,8% dari outlook APBN 2021 yang sebesar Rp 366,2 triliun.

Dalam Buku Nota Keuangan RAPBN 2022 dijelaskan, program pengelolaan utang negara pada RAPBN 2022 terdiri atas pembayaran bunga utang dalam negeri sebesar Rp 393,7 triliun dan Rp 12,2 triliun untuk pembayaran bunga utang luar negeri.

"Pertumbuhan pembayaran bunga utang pada 2022 tersebut lebih rendah apabila dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 2021 yang sebesar 16,6% (terhadap tahun 2020)," jelas dokumen Buku Nota Keuangan RAPBN 2022, dikutip Senin (16/8/2021).



Hal tersebut, diklaim pemerintah dipengaruhi oleh kebijakan penyesuaian pembiayaan utang tahun 2021, antara lain pemanfaatan saldo anggaran lebih (SAL) dan optimalisasi penarikan pinjaman tunai.

Selanjutnya, kebijakan tersebut diharapkan dapat turut menekan besaran pembayaran bunga utang pada tahun-tahun yang akan datang.

Perhitungan besaran pembayaran bunga utang tahun 2022 secara garis besar tiga meliputi hal dalam pembayaran bunga utang.

Pertama, outstanding utang yang berasal dari akumulasi utang tahun-tahun sebelumnya, termasuk tambahan utang untuk penanganan pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional.

Kedua, rencana penambahan utang pada 2022. Ketiga, rencana program pengelolaan portofolio utang (liabilities management).

Selain itu, perhitungan besaran bunga utang juga didasarkan pada lima asumsi, yakni:
1. Nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, terutama dolar Amerika Serikat (USD), yen Jepang (JPY), dan euro (EUR)
2. Tingkat bunga SUN tenor 10 tahun yang menjadi acuan bunga untuk instrumen SBN
3. Referensi suku bunga pinjaman serta asumsi spreadnya
4. Diskon penerbitan SBN
5. Perkiraan biaya pengadaan utang baru.


(mij/mij)
ARTIKEL TERKAIT