Surat Utang Diborong Warga Lokal, RI Tak Roboh Digoyang Asing

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
03 August 2021 16:10
Infografis/ Dukungan APBN untuk PPKM Darurat Dan Penanganan Kesehatan/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati merasa bangga karena saat ini, masyarakat Indonesia sudah mulai mau berkontribusi membangun negara dengan menjadi investor surat berharga negara (SBN).

Cakupan investor dalam negeri yang banyak kata Sri Mulyani akan memperdalam pasar keuangan, sehingga menjadi stabil dan mampu untuk membangun negara secara berkelanjutan.

Artinya, pasar keuangan di dalam negeri tidak akan mudah terpengaruh oleh gejolak yang terjadi di global dan regional. Pendalaman dan memperluas investor ritel, kata Sri Mulyani menjadi penting. Dan semuanya bisa dilakukan oleh masyarakat Indonesia sendiri.


"Ini penting karena kadang kita sedang fokus untuk membangun, namun kemudian ada perubahan di belahan bumi lain, namun dia bisa mempengaruhi perekonomian kita," jelas Sri Mulyani dalam webinar Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (Like It), Selasa (3/8/2021).

Dalam penerbitan SBN Ritel seri 010, Sri mengatakan basis investor terus meningkat dengan cakupan sebanyak 23.337 investor yang berinvestasi di dalam SBR 010. Dari jumlah investor tersebut sebanyak 9.068 orang merupakan investor baru.

"Kita juga gembira yakni ada 9.068 investor baru atau 38,9% dari jumlah investornya ini adalah investor baru," tuturnya.

Artinya, lanjut Sri Mulyani ke-9.068 orang tersebut adalah orang yang baru pertama kali membeli SBR atau surat berharga negara. Investor SBR 010 itu juga kata Sri Mulyani tersebar di seluruh wilayah Provinsi Indonesia.

Oleh karena itu, Sri Mulyani merasa bahwa Indonesia masih berpotensi untuk menambah investor di dalam penerbitan surat utang pemerintah selanjutnya. Cara meningkatkan jumlah investor itu, akan terus dilakukan oleh Sri Mulyani bersama jajarannya.

"Jumlah 9.068 nampaknya besar, namun jika dibandingkan penduduk Indonesia yang bekerja angka ini masih kecil. Artinya kita masih punya kesempatan untuk terus mendorong literasi keuangan dan pendalaman pasar dengan memperluas basis investor," tuturnya.

Sri Mulyani menjelaskan bahwa realisasi dari penerbitan SBR 010 pada bulan lalu, pihaknya bisa mengumpulkan dana hingga Rp 7,5 triliun. Angka tersebut kata dia adalah rekor penjualan tertinggi sepanjang penerbitan SBN Ritel.

"Walaupun bersifat non-tradable, sehingga menjadi harapan edukasi dan literasi keuangan berdampak positif pada perluasan basis investor," ujarnya lagi.

Pengelolaan APBN secara prudent juga menjadi upaya pemerintah meyakinkan masyarakat untuk membeli SBN, terutama situasi pandemi Covid-19.

Pada masa pandemi pula pemerintah, kata Sri Mulyani terus berinovasi membangun platform distribusi secara online sehingga masyarakat masih bisa melakukan investasi pada SBN ritel dengan lebih mudah.

Sri Mulyani optimistis, Indonesia bisa menjadi negara yang bisa memperoleh pembiayaan dari dalam negeri, mengingat juga adanya dana pihak ketiga di perbankan yang besar. Jika inklusi keuangan terus diperdalam dan diperluas, masyarakat akan lebih nyaman menginvestasikan dananya, termasuk melalui instrumen SBN.

Sri Mulyani juga berharap tingkat inklusi keuangan Indonesia dapat ditingkatkan dari posisi 76% di tahun lalu menjadi 90% pada 2024.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sri Mulyani 'Ramal' Ekonomi RI Tumbuh Sampai 8%! Yakin, Ibu?


(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading