Glodok, ITC Roxy Mas Sampai PGC Kosong Melompong, Kenapa?

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
03 August 2021 09:50
ITC Roxiy Mas (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa pasar elektronik di Jakarta yang beberapa tahun lalu merasakan masa kejayaan kini justru sepi hingga kosong melompong. Pantauan CNBC Indonesia di lapangan, sepinya pengunjung karena beberapa hal, mulai dari kekhawatiran masyarakat untuk kembali berbelanja secara offline, hingga kebijakan gedung yang belum berani membuka kembali aktivitasnya.

Pengelola Glodok Plaza misalnya, yang belum berani mengizinkan adanya transaksi di dalam gedung. Padahal, sudah ada pelonggaran bahwa aktivitasnya bisa berjalan dengan beberapa syarat. Meski demikian, pedagang masih bisa masuk ke dalam area gedung untuk mengambil barang dagangannya.

"Yang boleh masuk hanya pedagang dan karyawannya, mereka sengaja datang untuk mengambil barang yang sudah dipesan karena penjualan hanya lewat online," kata petugas yang tidak ingin disebutkan namanya kepada CNBC Indonesia, Senin (2/8/2021).


Cara ini sudah berlangsung sejak awal Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat pada 3 Juli 2021 lalu. Saat ini statusnya bukan lagi Darurat melainkan PPKM Level 4 sejak 21 Juli silam. Namun, hampir dua pekan berselang, pengelola gedung belum berani ambil risiko untuk membuka kembali aktivitasnya.

"Pedagang juga banyak yang mengeluh, namun gimana ya karena pengelola gedung juga nggak mau ambil resiko. Gimana kalau tiba-tiba Gubernur datang terus gak sengaja menemukan kerumunan, bisa ditutup izinnya pak, repot," jelasnya lagi.

Transaksi seperti ini memang sudah berjalan sebulan ke belakang, namun tidak banyak pembeli yang mengetahui cara ini. Karenanya, ada juga pengunjung yang sudah jauh-jauh datang ke tempat ini, namun sayangnya tidak membuahkan hasil, misalnya David dari Pamulang, Tangerang Selatan.

"Niatnya cari laptop, tapi ternyata tutup semua, padahal langganan saya ke sini, cuma nggak tau ternyata masih tutup. Saya tau memang bisa via online tapi rasanya kurang enak aja kalau beli barang nggak melihat langsung," jelasnya di lobi Plaza Glodok.

Kondisi ini nyatanya tidak hanya terjadi di Plaza Glodok, beberapa pengelola gedung di sekitaran Glodok masih belum berani untuk kembali membuka aktivitasnya seperti sediakala.

ITC Roxiy Mas (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)Foto: ITC Roxiy Mas (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
ITC Roxiy Mas (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Tidak jauh dari situ, yakni di LTC Glodok pun sama, toko di barisan depan gedung tutup, begitu juga akses dari lobi menuju dalam, tidak ada aktivitas. Begitu juga beberapa gedung di sekitaran Glodok seperti ITC Roxy Mas tidak seramai biasanya.

Beralih ke wilayah Jakarta Timur, maka pilihannya mengarah kepada Pusat Grosir Cililitan (PGC) yang berlokasi di Cililitan untuk pembelian barang elektronik. Namun, demi memasuki area ini setiap orang harus menunjukkan bukti vaksin, baik berupa fisik seperti kartu, maupun via handphone seperti foto. Petugas juga sigap menjaga setiap pintu masuk, jika tidak bisa menunjukkan, maka tidak boleh masuk ke dalam area gedung.

Aturan ini nampaknya membuat sebagian calon pembeli kesulitan masuk ke area gedung. Pantauan CNBC Indonesia kemarin (2/8/2021) sekitar pukul 12.00 WIB di lokasi, justru terlihat lebih banyak kehadiran pedagang dibanding pembeli. PGC memang baru dibuka mulai 31 Juli 2021 lalu, dan hanya bisa beraktivitas selama 5 jam yakni dari jam 10 pagi hingga 3 sore.

Kalangan pedagang mengakui bahwa penerapan PPKM Darurat pada 3-20 Juli lalu telah membawa dampak yang besar terhadap angka penjualan.

"Sebelum PPKM kita bisa keluarin 50 unit, sekarang mungkin setengahnya, bahkan belum tentu setengahnya juga, dibanding PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) tahun lalu, jauh lebih kerasa sekarang (penurunan penjualan)," kata Jonny Susanto PIC Dunia Computer yang berlokasi di lantai 3A PGC Cililitan ketika ditemui, Senin (2/8/2021) siang.

Dari jumlah unit yang keluar setiap harinya, terlihat hampir merata pada handphone maupun laptop. Namun, ada perbedaan yang nyata dalam metode penjualan saat ini. Penjualan justru lebih didominasi dengan cara online dibandingkan offline, perbandingannya pun cukup jauh, yakni 70:30. Pedagang harus terbiasa dengan cara seperti ini karena pernah merasakan pengalaman pahit pada PPKM Darurat lalu.

"Saat PPKM Darurat benar-benar tutup total, sebelum tutup kita sudah persiapkan ambil ke gudang dulu, lokasinya daerah dekat-dekat sini, semampu kita diambilnya, kalau ada permintaan kita ambil di gudang," jelas Jonny.

Selain toko elektronik, barisan warung makan menjadi salah satu yang paling sepi untuk kembali membuka operasinya. Toko baju pun sama, sangat sepi, terlihat hanya beberapa yang buka di lantai 2 PGC.

Karmi, pegawai tempat makan Berkah di lantai 3 yang menjual makanan ayam kremes dan makanan lainnya di pojokkan lantai 3 ragu pengunjung bakal ramai datang dalam waktu dekat. Pasalnya, kewajiban menunjukkan kartu vaksin juga bisa menghambat kedatangan pengunjung.

"Ini baru mau buka, liat aja masih pada mau bersih-bersih. Ngga tau bosnya mau buka kapan, yang penting bersihin dulu. Lihat aja yang lain bahkan belum pada buka," katanya.

Selain Karmi, karyawan toko aksesori handphone Jes Star juga harus mengalami nasib sama, dirumahkan selama PPKMĀ Darurat. Kini, karyawan sudah kembali masuk dalam tiga hari terakhir, namun penjualan masih belum banyak. Sebagian karyawan tampak merapikan paket untuk pembeli yang memesan secara online.

"Dulu sebelum PPKM Darurat 2 juta bisa lebih, sekarang Rp 1 juta juga belum tentu, apalagi tutupnya jam 10 sekarang. Lebih ramai online, kadang bisa Rp 5 juta lebih," kata karyawan Siti Nurjannah.

Namun untungnya masih ada beberapa pengunjung yang datang. Salah satunya adalah Deni Herdiansyah (40) yang mengantarkan anaknya untuk membeli charger handphone. Maklum, anaknya baru masuk Sekolah Dasar dan saat ini duduk di kelas 1 SD.

"Karena urgent butuh cepat, kalau online kan perlu waktu kirim. Tapi karena anak juga perlu buat sekolah online dan rumah saya juga dekat sini, Makassar (Jakarta Timur). Sebenarnya takut juga datang, kalau bisa online ya online aja," katanya kepada CNBC Indonesia usai membeli barang keperluan.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dampak PPKM Dahsyat: Kios Cempaka Mas hingga PGC Kopong!


(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading