Baterai EV Made-in Karawang, Bahan Bakunya dari Mana?

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
30 July 2021 15:30
Ilustrasi baterai pada mobil listrik yang dikemas dalam komponen yang aman. electrec.co

Jakarta, CNBC Indonesia - Wacana Indonesia untuk memiliki pabrik baterai kendaraan listrik bukan lagi menjadi isapan jempol seiring dengan kesepakatan Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution untuk berinvestasi US$ 1,1 miliar atau sekitar Rp 15,9 triliun (asumsi kurs Rp 14.500 per US$) membangun pabrik baterai kendaraan listrik di Karawang, Jawa Barat.

Kedua perusahaan asal Korea Selatan tersebut pada Rabu (28/07/2021) telah menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Pemerintah Indonesia untuk membentuk perusahaan patungan (joint venture) di Indonesia sebagai upaya dalam memproduksi sel baterai dari mobil listrik bertenaga baterai atau BEV.

Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution masing-masing akan berhak atas 50% kepemilikan saham di joint venture ini. Pemerintah Indonesia setuju untuk mendukung melalui berbagai insentif untuk kelancaran proses operasional yang stabil dari pabrik tersebut.


Pembangunan pabrik dijadwalkan akan dimulai pada kuartal keempat tahun 2021, dan akan selesai pada semester pertama tahun 2023. Sedangkan produksi massal sel baterai di fasilitas baru ini diharapkan akan dimulai pada semester pertama tahun 2024.

Pabrik sel baterai baru di Karawang akan dibangun di atas lahan seluas 330.000 meter persegi. Ketika beroperasi penuh, fasilitas ini diharapkan menghasilkan sel baterai lithium-ion NCMA dengan total 10 GWh setiap tahunnya, dan mampu memenuhi kebutuhan lebih dari 150.000 unit mobil listrik.

Lantas, bagaimana dengan sumber bahan bakunya? Dipasok dari mana kah bahan baku untuk pabrik sel baterai ini?

Adhietya Saputra, SVP Corporate Strategy & Business Development Indonesia Battery Corporation (IBC) atau PT Industri Baterai Indonesia, mengatakan untuk sementara bila pabrik sel baterai ini beroperasi lebih awal dibandingkan pabrik hulu komponen baterai yang akan dibangun IBC, maka bahan baku untuk pabrik sel baterai di Karawang ini akan diimpor terlebih dahulu.

"Sambil tunggu industri hulu tumbuh, sementara bahan baku akan diimpor terlebih dahulu," ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Jumat (30/07/2021).

Dia mengatakan, IBC juga sedang memproses pembentukan perusahaan patungan dengan konsorsium LG untuk membangun industri di hulu dan tengah (midstream). Perusahaan menargetkan pabrik komponen baterai di hulu dan midstream akan beroperasi pada 2025.

"Kurang lebih di 2025 kalau sesuai target industri hulu dan midstream akan beroperasi, per 2025 akan disuplai dari dalam negeri bahan baku baterainya," tuturnya.

Karena semua komponen belum ada di dalam negeri, maka diperkirakan hampir semua komponen sel baterai ini akan diimpor.

"Kalau dari komponen, pasti hampir semua impor, belum ada local industry-nya. Jenis komponen utama sel baterai ada anoda, katoda, electrolit, separator, ada modul baterai, tapi ini semua belum diproduksi di dalam negeri. Untuk itu, kita sambil develop sampai 2025 mendatang," jelasnya.

Namun demikian, dia menegaskan bahwa IBC berkomitmen untuk membangun ekosistem baterai terintegrasi dari hulu hingga hilir.

"Di 2025 baterai cell bahan bakunya bisa disuplai dari dalam negeri, dari IBC," imbuhnya.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading