Gegara PPKM di Indonesia dan Malaysia, Harga CPO Naik

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
15 July 2021 11:20
Pekerja mengangkut hasil panen kelapa Sawit di kebun Cimulang, Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/3). Badan Pusat Statistik BPS  mengumumkan neraca Perdagangan (Ekspor-impor) Pada bulan Februari, nilai ekspor mencapai US$ 12,53 miliar, atau turun 11,33% dari tahun sebelumnya (YoY). Nilai ekspor minyak sawit sepanjang Januari-Februari 2019 hanya mencapai US$ 2,94 miliar, yang artinya turun 15,06% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2018.  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak sawi mentah (Crude Palm Oil/CPO) naik pada perdagangan pagi ini. Risiko penurunan pasokan berdampak kepada kenaikan harga.

Pada Kamis (15/7/2021) pukul 10:12 WIB, harga CPO di Bursa Malaysia tercatat MYR 4.053/ton. Naik 0,8% dibandingkan hari sebelumnya. Harga CPO kembali berada di atas MYR 4.000/ton untuk kali pertama sejak awal Juni 2021.


cpo

Harga CPO melonjak karena kekhawatiran gangguan produksi akibat pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19). Indonesia dan Malaysia, dua negara produsen CPO terbesar dunia, tengah dihadapkan dengan situasi pandemi yang pelik.

Kemarin, pasien positif corona di Malaysia bertambah 11.618 orang. Ini adalah rekor tambahan pasien harian selama pagebluk corona melanda Negeri Harimau Malaya.

Situasi di Indonesia setali tiga uang. Kemarin, pasien positif corona bertambah 54.517 orang dari hari sebelumnya, rekor tertinggi selama wabah virus corona melanda Tanah Air.

Perkembangan pandemi yang semakin menjadi-jadi membuat pemerintah di dua negara tersebut menerapkan pengetatan aktivitas dan mobilitas masyarakat. Di Malaysia namanya Perintah Pembatasan Kawalan Pergerakan sementara di Indonesia adalah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

Pembatasan ini membuat sumber daya manusia di berbagai sektor berkurang, karena mobilitas memang diperketat. Salah satunya adalah di perkebunan kelapa sawit. Akibatnya, panen pun tidak bisa maksimal.

"Ini yang menjadi alasan minimnya penjual di pasar fisik CPO," ujar Paramalingam Supramaniam, Direktur Pelindung Bestari, broker CPO yang berbasis di Selangor (Malaysia), seperti dikutip dari Reuters.

Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, memperkirakan CPO sedang berupaya menembus titik resistance harga di MYR 4.105/ton. Jika titik ini tertembus, maka harga berpeluang naik sampai ke MYR 4.260/ton.

cpoSumber: Reuters

Namun jika CPO gagal menembus titik resistance itu dan malah turun ke MYR 4.009/ton, maka harga berisiko longsor ke MYR 3.931/ton. Jika level support itu tertembus, maka siap-siap harga bisa jatuh lebih dalam.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading