Internasional

Bak 'Neraka', Kisah Runtuhnya Ekonomi Lebanon -20%

News - Sefti Oktarianisa, CNBC Indonesia
12 July 2021 11:05
Warga Lebanon marah memblokir seluruh jalan dengan membakar ban dan tempat sampah setelah mata uang Lebanon jatuh ke titik terendah baru dalam krisis ekonomi. (AP/Hassan Ammar)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lebanon kini tengah krisis. Bahkan Bank Dunia menyebut negara itu kini mengalami krisis ekonomi terburuk di dunia sejak tahun 1850-an.

Mengutip Trading Economics, ekonomi Lebanon kontraksi alias negatif 20,3% di 2021.Krisis ekonomi yang parah sudah terjadi selama 18 bulan terakhir.


"Kontraksi brutal seperti ini biasanya terjadi dalam konflik atau perang," kata Bank Dunia dalam laporannya menyebut Lebanon.

Mata uang lokal bahkan jatuh ke rekor terendah terhadap dolar. Pound Lebanon dijual dengan rekor 19.500 terhadap dolar AS, kurang dari sepersepuluh kurs resminya, di pasar gelap.

Cadangan mata uang asing Lebanon menipis. Inflasi makanan mencapai 400%.

Kini, kekurangan uang di negara itu berdampak pada pasokan obat-obatan dan energi. Apotek melakukan pemogokan karena kekurangan obat yang disebabkan kegagalan membayar importir asing.

Asosiasi pemilik apotek mengumumkan 'pemogokan terbuka' di seluruh Lebanon. "80% apotek tutup di Beirut dan kota-kota besar," kata Ali Safa, anggota asosiasi, dikutip AFP, Senin (12/7/2021).

Bukan hanya itu, pembangkit listrik utama di negara itu mati total karena kekurangan bahan bakar. Pembangkit listrik Zahrani dan Deir Ammar offline karena tak mendapat akses bahan bakar.

Kapal-kapal yang memuat minyak dan gas menolak untuk menurunkan bahan bakar sebelum ditransfer ke rekening pemiliknya dalam dolar. Padahal, warga sebelumnya hanya menerima listrik dua jam sehari, dijatah selama beberapa dekade.

"Pasokan listrik telah terputus di seluruh wilayah Lebanon tanpa batas," kata seorang warga dikutip BBC.

Air pun kini tak mudah lagi didapat, di mana warga mendapat penjatahan air. Stasiun pompa ditenagai oleh diesel, dan kekurangan pasokan yang mereka butuhkan untuk berfungsi.

Mengutip mantan penasihat kementerian keuangan negara itu, Henri Chaoul, Lebanon kini seperti berada dalam 'kereta api menuju ke neraka'. "Yang akan mencapai stasiun akhir," katanya ke CNBC Internasional.

Negara berpenduduk 7 juta orang itu disebut salah manajemen. Padahal ini bukan krisis pertama, karena Lebanon pernah mengalami krisis serupa akibat perang saudara dari 1975 hingga 1990.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Lebanon Krisis Obat-Obatan, Banyak Apotek Tutup Total!


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading