Lebanon Krisis Obat-Obatan, Banyak Apotek Tutup Total!

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
09 July 2021 20:31
Bentrokan terjadi di Lebanon utara antara pasukan keamanan dan demonstran yang marah karena lockdown (penguncian) terkait virus Corona. (AP/STR)

Jakarta, CNBC Indonesia - Banyak apotek di Lebanon dilanda krisis pada Jumat ini karena kekurangan pasokan obat-obatan. Hal ini terjadi ketika negara negara yang kekurangan uang itu tengah gagal membayar biaya subsidi pada impor obat.

Melansir AFP, Jumat (9/7/2021), negara ini menghadapi apa yang disebut oleh Bank Dunia salah satu krisis ekonomi terburuk di dunia sejak tahun 1850-an. Dimana cadangan mata uang asing menipis dengan cepat.

Importir obat pada akhir pekan lalu memperingatkan bahwa mereka kehabisan ratusan obat. Serta mengungkapkan bank sentral telah gagal membayar pemasok luar negeri jutaan dolar untuk pembayaran iuran pada skema subsidi obat.


Asosiasi Farmasi mengumumkan akan melakukan mogok terbuka di seluruh Lebanon. "Pemogokan secara umum di seluruh Lebanon," katanya.

Ali Safa, Anggota Asosiasi mengatakan 80% apotek tetap tutup di Beirut ibu kota Lebanon dan kota-kota besar. Sementara 50% apotek akan mogok di daerah lainnya.

Fotografer AFP mengatakan sebagian besar apotek telah tutup di sepanjang garis pantai utara Beirut. Sementara di pinggiran ibu kota juga sudah banyak yang ditutup

Selain itu beberapa obat telah menghilang peredarannya dari beberapa bulan terakhir. Memaksa banyak masyarakat Lebanon meminta bantuan di media sosial untuk menemukan nya termasuk dari teman dan keluarga di luar negeri.

Warga Beirut, Elie (48) mengatakan dia telah mengunjungi lima apotek awal pekan ini untuk mencari obat asam urat tinggi.

"Mereka memberitahu saya kalau tidak ada yang tersisa, pemasok belum mengirimkan," katanya kepada AFP.

Importir Obat Karim Gebara mengatakan beberapa obat untuk penyakit jantung, tekanan tinggi, darah tinggi, diabetes, kanker dan sclerosis sudah habis. Hal ini disebabkan bank sentral tidak membayar iuran dan importir tidak bisa membuka lagi jalur kredit.

Pemilik apotek Safa mengatakan dua bulan terakhir pemasok secara bertahap menghentikan pengiriman. Dia menginginkan Kementerian Kesehatan Lebanon menyetujui obat-obatan terus disubsidi sesuai prioritas dan dijual dengan harga tetap.

Dalam kondisi ini menurutnya, pemasok bisa menjual semua obat lain sesuai kurs pasar gelap, agar tidak merugi.

Bank Sentral Lebanon, Senin lalu mengatakan akan mengalokasikan US$ 400 juta untuk mendukung produk utama termasuk obat-obatan dan tepung.

Namun importir obat Gebara mengatakan telah hanya menjanjikan US$ 50 juta per bulan dalam bentuk subsidi obat-obatan. Itu hanya akan menutupi setengah dari tagihan impor saat ini.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bak 'Neraka', Kisah Runtuhnya Ekonomi Lebanon -20%


(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading