Nah Loh! Kata Sri Mulyani, Dana Asing Kini Sulit Balik ke RI

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
14 June 2021 15:48
INFOGRAFIS, Ini Faktanya Ekonomi RI Membaik

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mewaspadai dampak pandemi Covid-19 terhadap keluarnya aliran modal asing atau capital outflow ke tanah air. Pasalnya, jika dibandingkan dengan krisis keuangan global 2008, aliran modal asing saat ini sulit kembali.

Sri Mulyani menjelaskan, pada saat terjadi global financial crisis atau krisis keuangan pada 2008, capital outflow ke negara emerging market, termasuk Indonesia sudah masuk pada bulan ke-6. Sementara pada situasi krisis Covid-19, capital flow belum kembali meskipun sudah memasuki bulan ke-15.

"Periode global financial crisis (krisis keuangan) aliran modal asing kembali ke negara emerging pada bulan keenam. Sementara pada covid-19 ini capital flow belum kembali meskipun sudah memasuki bulan ke-15," jelas Sri Mulyani saat melakukan rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Senin (14/6/2021).


Adapun, sejak Januari 2020 hingga 10 Juni 2021, investor di pasar modal, kata Sri Mulyani, membukukan posisi jual bersih Rp 125,62 triliun dan lebih besar disumbangkan oleh outflow di pasar SBN. Dari catatan BI, investor asing yang melakukan aksi beli (net buy) sebesar Rp 14,65 triliun dari awal tahun hingga 10 Juni 2021.

Capital outflow di tengah pandemi Covid-19 juga pernah diakui Sri Mulyani dua kali lipat lebih deras dibandingkan krisis ekonomi pada 2008 dan 2013 silam.

Di mana, aliran modal asing yang keluar saat krisis ekonomi pada 2008 sebesar Rp 69,9 triliun. Sementara, pada krisis 2013 lalu, asing hanya menarik investasinya sebesar Rp 36 triliun.Sedangkan, pada periode Januari-Maret 2020 saja, arus modal keluar mencapai Rp 145 triliun akibat pandemi Covid-19.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan bahwa, beberapa risiko yang masih terus dicermati, diantaranya kondisi ekonomi global negara Amerika yang diproyeksi akan pulih lebih cepat.

Hal tersebut, kata Perry sejalan dengan pesatnya vaksinasi yang dilakukan, kemudian juga berkaitan dampak ke inflasi dan stimulus fiskal AS yang besar menyebabkan kenaikan US Treasury meningkat signifikan hingga 1,6%, dari sebelumnya hanya 1,2% - 1,3%.

Perry menjelaskan bahwa BI bersama Menteri Keuangan terus berkoordinasi dan berkomunikasi untuk merumuskan langkah stabilitas tidak hanya berkaitan dengan nilai tukar tapi juga langkah bersama stabilisasi SBN.

"Tidak dipungkiri ini berdampak pada depresiasi juga kenaikan obligasi SBN kita tapi Insya Allah lebih manageable. Ke depan yg harus dipantau barangkali beberapa isu rambatan global jadi sangat penting," ujar Perry.


[Gambas:Video CNBC]

(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading