Internasional

Kekhawatiran 'Bom Waktu' Inflasi AS Lanjut, Ada Ramalan Baru

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
10 June 2021 09:55
An American flag flutters at the premises of the former United States Consulate General in Jerusalem March 4, 2019. REUTERS/Ammar Awad

Jakarta, CNBC Indonesia - Isu mengenai 'bom waktu' inflasi Amerika Serikat (AS) semakin berhembus kencang. Setelah Deutsche Bank, beberapa analis sudah memberikan sinyal bahwa perekonomian Negara Paman Sam itu bisa overheat.

Mengutip CNBC International, menurut Dow Jones, perkiraan konsensus untuk indeks harga konsumen inti (IHK), yang tidak termasuk makanan dan energi, adalah 3,5% dari tahun ke tahun. Itu merupakan pertumbuhan tahunan tercepat dalam 28 tahun.


Ekonom memperkirakan IHK inti naik 0,5% di bulan Mei. Sementara itu secara tahunan, IHK diperkirakan akan melonjak 4,7%, tingkat tertinggi sejak inflasi pada musim gugur 2008.

"Itu akan panas. Bisa sampai 5%," kata Diane Swonk, kepala ekonom di Grant Thornton.

"Panas terburuk akan terjadi pada kuartal kedua dalam hal headline. Akan menarik untuk melihat seperti apa saat Anda menghilangkan yang ekstrem. Saya pikir kita masih akan memiliki musim panas yang hangat ketika Anda memiliki lonjakan harga untuk segala hal mulai dari tiket pesawat hingga hotel."

Tak hanya Diane,Mark Zandi, kepala ekonom di Moody's Analytics, mengatakan ia memperkirakan kenaikan 0,6% pada IHK inti periode Mei 2021.

"Tingkat pertumbuhan tahun-ke-tahun akan menjadi 3,65%," katanya."Terakhir kali setinggi ini adalah Juli 1992."

IHK Mei sendiri diharapkan dirilis pada Kamis (10/6/2021) dan investor saat ini masih memperdebatkan apakah periode kenaikan ini bersifat sementara, seperti yang diyakini Fed, atau lebih meresap dan persisten.

Sebelumnya para tim ekonom Deutsche Bank memberikan sebuah peringatan penting bagi perekonomian dunia. Mereka menyebut pemberian stimulus yang diberikan bank sentral bisa menyebabkan inflasi yang sangat signifikan.

Hal ini disampaikan bukan tanpa alasan. Pasalnya mereka menyebut kebijakan bank Sentral AS untuk mentolerir inflasi tinggi demi pemulihan ekonomi yang dibarengi pemberian stimulus akan menjadi sebuah bom waktu yang bahkan dapat menyebabkan resesi.

"Konsekuensi dari penundaan akan menjadi gangguan yang lebih besar dari aktivitas ekonomi dan keuangan daripada yang akan terjadi ketika Fed akhirnya bertindak," kepala ekonom Deutsche, David Folkerts-Landau.

"Pada gilirannya, ini dapat menciptakan resesi yang signifikan dan memicu rantai kesulitan keuangan di seluruh dunia, terutama di pasar negara berkembang."

Lebih lanjut mereka mengatakan bahwa stimulus mega jumbo yang disetujui kongres AS senilai US$ 5 triliun baru akan dapat didistribusikan dengan baik ketika pertumbuhan ekonomi diprediksi mencapai 10%. Ini terlalu terlambat dan terkesan sangat tidak perlu.

"Belum pernah kita melihat kebijakan fiskal dan moneter ekspansif yang terkoordinasi seperti itu. Ini akan berlanjut ketika output bergerak di atas potensi," ujar Folkers-Landau lagi.

"Inilah mengapa kali ini berbeda untuk inflasi."


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading