Internasional

Panas Raja Malaysia Panggil Muhyiddin-Anwar Ibrahim, Ada Apa?

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
10 June 2021 08:05
Malaysia's King Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah waves as he leaves National Palace in Kuala Lumpur, Malaysia, Sunday, Oct. 25, 2020. National Palace statement says Malay rulers has decided not to accede to Prime Minister Muhyiddin Yassin's request to declare a state of emergency. (AP Photo/Vincent Thian) Foto: Raja Malaysia, Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah (AP Photo/Vincent Thian)

Jakarta, CNBC Indonesia - Raja Malaysia, Yang Dipertuan Agong Malaysia Al-Sultan Abdullah Ri'ayatuddin Al Mustafa Billah Shah, dikabarkan mengumpulkan semua tokoh penting di negara itu Rabu (9/6/2021). Ia mengadakan pertemuan dengan pemimpin partai di tengah situasi politik yang kembali memanas.

Dilaporkan Channel News Asia, PM Muhyiddin Yassin menjadi orang pertama yang tiba di istana. Selain PM Muhyiddin, pemimpin oposisi Anwar Ibrahim juga hadir, sebagaimana dilaporkan media lokal Astro Awani.

Dalam pertemuan dengan Raja, Anwar Ibrahim mengatakan bahwa ia telah memohon kepada Sultan untuk tidak memperpanjang keadaan darurat di negara itu. Sebelumnya status ditetapkan Januari 2021 hingga 1 Agustus guna menekan penyebaran virus corona (Covid-19).

"Kami telah menyuarakan pendapat kami bahwa keadaan darurat yang berlanjut akan mengakibatkan kerugian negara, tidak membantu dalam penanganan Covid-19 dan akan mempengaruhi perekonomian terutama bagi rakyat (rakyat) di kelompok berpenghasilan rendah," kata Anwar.

"Kami melihat bahwa semua langkah yang dapat dilakukan untuk membantu situasi tidak memerlukan keadaan darurat. Jadi kami memohon kepada raja untuk mencegah kelanjutan keadaan darurat sebanyak mungkin."

Mengenai persoalan politik, Anwar tidak mengatakannya lebih lanjut. Bukan hanya Muhyiddin dan Anwar, mantan PM Mahathir Mohamad disebut akan bertemu raja hari ini, Kamis (10/6/2021).

Raja Malaysia pada Januari lalu telah mengumumkan keadaan darurat di seluruh negara untuk mengekang penyebaran Covid-19. Ini akan berakhir pada 1 Agustus atau lebih awal tergantung pada keadaan pandemi.

Keadaan darurat ini telah menunda sidang parlemen dan majelis negara bagian serta pemilihan umum. Menanggapi hal itu, anggota parlemen oposisi pimpinan Anwar membentuk Komite untuk Mengakhiri Deklarasi Darurat pada bulan Maret dan meluncurkan petisi untuk meminta diakhirinya keadaan darurat.

Muhyiddin sendiri saat ini berada di bawah tekanan partai oposisi dan mitra pemerintah. Ia diminta membuktikan dukungan parlemen ke pemerintahannya.

Tekanan ini semakin berhembus kencang setelah PM berdarah Jawa-Bugis itu digugat oposisi. Itu lantaran keputusannya untuk penangguhan parlemen selama keadaan darurat Covid-19.

Malaysia kini mencatat total 627.652 kasus corona dengan 3.536 kematian. Kemarin, mengutip Worldometers, Malaysia mencatat 5.566 kasus baru dengan 76 kematian.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kabinet Muhyiddin Resmi Serahkan Pengunduran Diri ke Raja


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading