'Resesi Seks' China Buat Xi Jinping Setuju Kebijakan 3 Anak

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
03 June 2021 06:15
In this Jan. 19, 2019, photo, a nurse checks on the new-born babies under intensive care at a hospital in Fuyang in central China's Anhui province. China's population rose by 15.23 million people in 2018, marking a continued decrease in the growth rate of the world's most populous nation. (Chinatopix via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - China memperbolehkan pasangan memiliki tiga anak dari sebelumnya hanya dibatasi satu anak. Ini merupakan kebijakan besar di negara terpadat penduduknya di Bumi.

Kebijakan ini dilatarbelakangi adanya turunnya tren pertumbuhan penduduk China dari sensus terakhir yang ditengarai adanya 'resesi seks'. China memang punya target ekonomi dan sosial untuk periode 2021-2025 yang ambisius. Terus meningkatkan populasi penduduknya justru menjadi hal penting saat ini.

Sebelumnya Financial Times melaporkan bahwa populasi negara ekonomi terbesar kedua di dunia itu dapat berkurang karena mengalami lebih banyak kematian daripada kelahiran untuk pertama kalinya sejak 1961.


Mengenai kebijakan boleh 3 anak, melansir Xinhua, perubahan itu bahkan disetujui langsung oleh Presiden China Xi Jinping. "Perubahan itu disetujui selama pertemuan polit biro yang dipimpin oleh Presiden Xi Jinping," tulis media itu.

Sebelumnya, dari sensus nasional yang dilaporkan 11 Mei lalu, tingkat pertumbuhan tahunan China rata-rata adalah 0,53% selama 10 tahun terakhir. Ini turun dari tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata 0,57% antara tahun 2000 dan 2010. Pada 1 November 2020, populasi China mencapai 1,41 miliar orang.

Angka kelahiran China terus menurun sejak 2017. Meskipun Beijing melonggarkan "kebijakan satu anak" yang sudah disahkan selama puluhan tahun untuk mencegah krisis demografis di sana, angka tak kunjung naik.

'Resesi' ini disebabkan penurunan angka pernikahan dalam beberapa tahun terakhir. Pasangan bergumul dengan mahalnya biaya membesarkan anak di kota-kota besar.

Perempuan juga secara alami menunda atau menghindari persalinan karena pemberdayaan mereka yang semakin meningkat. Hal-hal berbau seksual yang bisa menyebabkan mereka hamil jadi dihindari.

"Data menunjukkan bahwa populasi China mempertahankan momentum pertumbuhan yang ringan dalam dekade terakhir," kata Ning Jizhe, pejabat dari Biro Statistik Nasional, dikutip dari AFP dua pekan lalu.

Ini menimbulkan sejumlah saran dari ahli. Profesor Peking University School of Economic Liang Jianzhang mengatakan dalam sebuah video yang di posting di media sosial Weibo bahwa untuk menaikkan tingkat kelahiran dari 1,3 saat ini menjadi 2,1 dibutuhkan biaya 10% dari PDB China.

Jumlah itu mencapai 1 juta yuan atau setara Rp 2,3 miliar per kelahiran. Dana dapat dialokasikan dalam bentuk uang tunai, keringanan pajak atau subsidi perumahan.

"Saya telah berbicara dengan banyak anak muda ... jika hanya diberi beberapa puluh ribu yuan, itu tidak akan mendorong orang untuk memiliki anak lagi," ujarnya seperti dikutip dari Reuters.

Menurut Liang Jianzhang dana sebesar 1 juta yuan yang digelontorkan pemerintah untuk kelahiran satu bayi tidak akan merugikan pemerintah. Biaya itu dikompensasi dengan kontribusi mereka di masa mendatang pada ekonomi negara.

"Jika sebuah keluarga melahirkan anak lagi, kontribusi masa depan anak itu untuk jaminan sosial, pendapatan pajak, akan melebihi 1 juta yuan," terangnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Titah Xi Jinping: Banyak Anak Banyak Rezeki! Ini Alasannya


(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading