Sektor Properti RI Bergeliat, Ini Buktinya!

News - Tirta, CNBC Indonesia
27 May 2021 15:40
Awal Desember 2017, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat capaian Program Satu Juta Rumah sebanyak 765.120 unit rumah, didominasi oleh pembangunan rumah bagi  masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebesar 70 persen, atau sebanyak 619.868 unit, sementara rumah non-MBR yang terbangun sebesar 30 persen, sebanyak 145.252 unit.
Program Satu Juta Rumah yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo, sekitar 20 persen merupakan rumah yang dibangun oleh Kementerian PUPR berupa rusunawa, rumah khusus, rumah swadaya maupun bantuan stimulan prasarana dan utilitas (PSU), 30 persen lainnya dibangun oleh pengembang perumahan subsidi yang mendapatkan fasilitas KPR FLPP, subsisdi selisih bunga dan bantuan uang muka. Selebihnya dipenuhi melalui pembangunan rumah non subsidi oleh pengembang.
Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengungkapkan, rumah tapak masih digemari kelas menengah ke bawah.
Kontribusi serapan properti oleh masyarakat menengah ke bawah terhadap total penjualan properti mencapai 70%.
Serapan sebesar 200.000 unit ini, akan terus meningkat pada tahun 2018 menjadi 250.000 unit.

Jakarta, CNBC Indonesia - Ada kabar baik yang datang dari sektor properti Tanah Air. Bank Indonesia (BI) mencatat terjadi kenaikan volume penjualan rumah untuk semua tipe pada kuartal pertama tahun ini. 

Dalam Survei Harga Properti Residensial yang dirilis hari ini, tercatat ada kenaikan 13,95% (yoy) volume penjualan rumah sepanjang Januari - Maret 2021. Pada kuartal sebelumnya penjualan rumah masih berada di zona kontraksi. Volume penjualan turun 20,59% (yoy) pada kuartal empat tahun lalu. 

Penjualan rumah tipe menengah masih menjadi pendorong peningkatan volume penjualan rumah total. Untuk jenis rumah tipe menengah penjualannya meningkat hampir 26% (yoy). Sementara untuk tipe rumah kecil dan besar kenaikannya masing-masing tercatat sebesar 9,69% (yoy) dan 6,95% (yoy). 


Kendati ada peningkatan, tetapi responden yang disurvei mengatakan ada beberapa faktor yang membuat kenaikan penjualan menjadi terbatas. Faktor-faktor tersebut masih sama dengan survei sebelum-sebelumnya yaitu kenaikan harga bahan bangunan yang paling dominan, masalah perizinan, suku bunga KPR, uang muka hingga pajak.

Menariknya masalah suku bunga KPR yang tinggi sudah bukan lagi menjadi isu utama bagi penjualan rumah. Hal ini dikarenakan dari sisi moneter, BI sudah memangkas suku bunga acuan hingga 200 basis poin (bps) ke level terendah sejak Indonesia merdeka.

Transmisi kebijakan moneter juga terus berjalan tercermin dari penurunan suku bunga kredit KPR meskipun belum seagresif pemangkasan suku bunga acuan. Dalam satu tahun terakhir tercatat suku bunga KPR sudah turun sebesar 42 bps. 

Tidak hanya kebijakan moneter saja yang dilonggarkan oleh otoritas moneter nasional, BI juga menetapkan kebijakan makroprudensial yang akomodatif. Mulai Maret BI mengubah rasio uang muka (DP) atau Loan To Value (LTV) rumah dari yang sebelumnya 85-90% menjadi 100%. Ini artinya membeli rumah bisa dengan DP 0%. 

Kebijakan ini ditujukan agar masyarakat mau membeli rumah dan tidak hanya mengendapkan dananya di perbankan. Rumah sendiri merupakan aset yang dibeli menggunakan kredit oleh mayoritas masyarakat. Ketika ada permintaan terhadap properti, bank yang memiliki likuiditas longgar pun bisa langsung menyalurkannya. 

Halaman Selanjutnya --> Harga Rumah di RI Tumbuh Terbatas, di Luar Negeri Selangit

Harga Rumah di RI Tumbuh Terbatas, di Luar Negeri Selangit
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading