Ada 'Ledakan' Harga Komoditas, Bisnis Ini Ikutan 'Terbang'

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
20 May 2021 11:55
Model berpose di depan mobil alat berat jenis Caterpillar berada IIMS 2019, JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (26/4).  Kendaraan tambang Caterpillar 777D dengan tinggi sekitar 6 meter ini didominasi warna kuning dan hitam dan didatangkan oleh Trakindo Utama Caterpillar 777D. Mobil ini dijual Rp13 milliar. Banyak pengunjung yang datang dan berfoto di depan truk raksasa.  Tujuan ditampilkan nya mobil alat berat untuk pertambangan itu bertujuan untuk memberikan edukasi kepada warga tentang alat berat dan fungsinya. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia sedang memasuki periode supercycle, dimana harga beberapa komoditas naik secara signifikan. Fenomena yang juga pernah terjadi awal-awal 2000 lalu. Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi pernah mengungkapkan 'supercycle' yang jadi pertanda kabar baik buat kinerja ekspor Indonesia.

Selain ekspor, kabar baiknya lagi sektor pendukung bisnis komoditas juga ikutan terangkat. Salah satunya yang langsung menggeliat adalah industri alat berat kembali menggeliat sejak awal 2021. Hal ini ditunjukkan dari produksi alat berat secara nasional yang naik berlanjut hingga saat ini karena ada kenaikan harga komoditas. 

Ketua Himpunan Industri Alat Berat Indonesia (Hinabi) Jamalludin menjelaskan, sejak kuartal I-2021 produksi alat berat sudah meningkat, tercatat tumbuh 45% sebanyak 1.417 unit dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Capaian ini sudah hampir mencapai separuhnya dari produksi tahun lalu yang mencapai 3.427 unit.


Dominasi peningkatan produksi dari sektor pertambangan yang naik 35%, forestry dan agriculture 20%, juga konstruksi naik 10%.

"Dominan memang dari tambang, khususnya dari dump truck sama eskavator cukup besar porisnya dari kenaikan di sektor tambang 35% porsi dump truck naik 75%," jelas Jamalludin kepada CNBC Indonesia, Kamis (20/5/2021).

Jamalludin memprediksi produksi alat berat tahun 2021 bakal meroket karena ada fenomena supercycle pada komoditas. Awalnya dia memprediksi produksi alat berat bakal ada peningkatan sebesar 30% atau sekitar 4.500 unit di tahun ini. Namun, dengan tren positif menjadi naik 40% atau mencapai 6.000 unit.

"Sekarang melihatnya geliat seperti ini bisa naik 40% sepanjang tahun menjadi 6.000 unit, tapi ada satu kendalanya adalah material," jelasnya.

Saat ini permasalahan produksi alat berat ada dua. Pertama, ada kekurangan material untuk mendukung pembuatan alat berat, ini karena sumber material bahan baku alat berat yang diimpor sedang mengalami kekurangan pasokan.

Kedua, ada masalah sumber daya manusia yang menjadi tenaga kerja alat berat baik dari sisi produksi hingga operator alat berat. Hal ini dipicu karena banyaknya pengurangan karyawan dari tahun lalu.

"Industrinya naik turun, tahun lalu sempat lesu kita banyak mengurangi karyawan mencapai 4.000-an tenaga kerja diseluruh perusahaan alat berat," jelasnya.

Apa saja komoditas yang harganya melesat naik, klik di sini.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Pakar: Ekspor Meningkat, Supply Batu Bara RI Masih Aman


(hoi/hoi)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading