Investasi Migas-Tambang Disetop Demi Iklim? Mustahil Bagi RI

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
19 May 2021 20:26
Medco e&p natuna temukan cadangan gas di perairan natuna. (SKK Migas)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) menyampaikan demi mencapai bebas karbon (net zero emissions) pada 2050, maka investasi di bidang energi fosil harus diakhiri, di antaranya investasi tambang batu bara baru, sumur minyak, dan juga gas bumi.

Menanggapi hal ini, Direktur Utama PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) Hilmi Panigoro mengatakan menghentikan investasi di sektor migas dan pertambangan adalah pernyataan yang sangat kontroversial dan tidak realistis, terutama bagi Indonesia.

"Menurut saya itu pernyataan yang kontroversial dan unrealistic, bagaimana mungkin berhenti investasi migas di 2021, buat negara-negara ASEAN, khususnya Indonesia yang hari ini 70% kebutuhan energi masih tergantung batu bara minyak dan gas, kita semua concern ke energi bersih, tapi harus dilakukan dengan realistis," ungkapnya dalam wawancara bersama CNBC Indonesia, Rabu (19/05/2021).


Menurutnya, program yang dilakukan harus dapat dilakukan dan dicapai sesuai dengan yang diinginkan. Dia menegaskan, hampir semua perusahaan tambang dan migas dewasa ini juga sudah merancang transisi ke energi bersih.

"Dengan program yang achievable, apa yang kita inginkan dan apa yang kita achieve adalah dua hal yang berbeda," sebutnya.

Selain IEA, proyeksi lain di sektor perminyakan juga datang dari lembaga konsultan energi global yakni Wood Mackenzie yang sempat meramal harga minyak mentah Brent akan jatuh ke US$ 40 per barel pada 10 tahun mendatang.

Mengenai hal ini, Hilmi menyebut harga minyak sangat sulit diprediksi secara jangka panjang. Dia mencontohkan, pada saat harga minyak anjlok pada 2015, banyak perusahaan besar yang mengalihkan belanja modalnya, sehingga aktivitas eksplorasi dan pengembangan sumur berkurang.

Padahal, imbuhnya, produksi minyak akan selalu mengalami penurunan secara alami. Saat harga pulih dan diharapkan produksi dari komoditas ini bertambah, tapi ketika eksplorasi sudah berkurang, maka yang mungkin terjadi adalah kelangkaan.

"Gap itu sangat banyak pengaruhnya. Jadi saya kira, boleh-boleh saja bilang US$ 30-40 (per barel), saya nggak sependapat tapi mungkin saja terjadi, tergantung dari supply dan demand 15-20 tahun dari sekarang," jelasnya.

PT Medco Energi Internasional Tbk menurutnya sudah bergerak ke energi yang lebih bersih, yakni melalui dua program yang tengah dijalankan di antaranya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 75 mega watt (MW) di Bali Timur, Bali Barat, dan Sumbawa. Kedua, pembangkit listrik geothermal di Jawa Timur di Gunung Ijen hingga 110 MW tapi dimulai dari 50 MW.

"Ini dua hal Medco lakukan ke energi baru yang lebih bersih," tegasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading