Pemuda DKI Tewas, KIPI: Mungkin Berkaitan dengan Vaksin AZ

News - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
15 May 2021 15:30
Infografis/Banyak Negara Tunda Tunda Vaksin AstraZeneca, Bagaimana Dengan Indonesia?/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Belakangan ini publik digemparkan oleh beredarnya kabar kematian seorang pemuda bernama Trio Fauqi usai menerima suntikan vaksin Covid-19.

Trio yang berasal dari Buaran, Jakarta Timur meninggal sehari setelah disuntik vaksin Covid-19 produksi AstraZeneca di Istora Senayan, Jakarta Pusat pada Rabu, 5 Mei 2021.

Terkait hal ini, Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Prof Hindra Hingky Irawan Satari mengungkap temuan lanjut investigasi pemuda 22 tahun itu.


Menurutnya, tak menutup kemungkinan wafatnya yang bersangkutan berkaitan dengan vaksin.

Berdasarkan hasil investigasi bersama dokter pribadi Trio, Prof Hindra menegaskan riwayat kesehatan bukan menjadi penyebab dirinya wafat usai divaksin Corona.

"Sudah keluar (investigasi dengan dokter yang bersangkutan) tapi karena rekam medik ini kan nggak boleh disebutkan, cuma tidak terkait dengan penyebab meninggal yang bersangkutan," katanya saat diwawancara detikcom Sabtu (15/5/2021).

Meski begitu, kata dia, untuk benar-benar memastikan wafatnya Trio akibat vaksin Corona AstraZeneca, tetap memerlukan autopsi. Sementara, pihak keluarga hingga saat ini belum ada keterangan bersedia melakukan autopsi.

Sejauh ini, untuk melihat keterkaitan antara keduanya, disebut Prof Hindra sangat sulit lantaran data yang dikumpulkan sangat terbatas. Sebab, yang bersangkutan sudah wafat saat dibawa ke rumah sakit.

"Harusnya juga kan ada (data) trombosit yang jumlahnya rendah itu, nah ini kan kita nggak bisa dapat, orang sudah wafat datang ke rumah sakitnya," tuturnya.

"Mungkin kalau sempat dirawat, bisa diperiksa labnya, bisa CT scan kepala ya, cuman sayang (sudah wafat)," jelas Prof Hindra.

BPOM melakukan uji sterilitas vaksin Corona

BPOM disebutnya tengah melakukan uji sterilitas vaksin Corona untuk melihat apakah vaksin yang diberikan dalam kondisi terkontaminasi zat-zat berbahaya. Dilakukan di laboratorium.

"Kita uji sterilitas dan toksitasnya dari vaksin tersebut, di lab-nya BPOM, untuk menguji si kualitas vaksin-nya," sambungnya.

"Kita buktikan, nanti dari lab diharapkan steril tidak tercemar zat-zat berbahaya," beber Prof Hindra.

Ia kembali menegaskan, sangat sulit untuk menyimpulkan kaitan antara wafatnya yang bersangkutan dengan vaksin di data yang amat terbatas. Namun, sejauh ini risiko vaksinasi dibandingkan manfaat masih lebih rendah.

Prof Hindra mengajak agar masyarakat tetap menjalani vaksinasi Corona dengan mempertimbangkan manfaat yang lebih besar pasca divaksin.

"Ini kan tindakan medis ya mau divaksin, jadi memang ada risiko medis tuh, nggak mgkn nggak ada, semua buatan manusia, orang minum parasetamol aja ada risiko, tapi manfaat dari vaksin jauh lebih besar ketimbang risikonya," tutupnya.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading