Kasus Harian

Alamak! Corona di India Pecah Rekor Lagi, Tembus 412 Ribu

News - Tommy Sorongan, CNBC Indonesia
06 May 2021 19:54
A man transports a dead body on a handcart to a ground that has been converted into a crematorium for mass cremation of COVID-19 victims, in New Delhi, India, Saturday, April 24, 2021. Delhi has been cremating so many bodies of coronavirus victims that authorities are getting requests to start cutting down trees in city parks, as a second record surge has brought India's tattered healthcare system to its knees. (AP Photo/Altaf Qadri)

Jakarta, CNBC Indonesia - India pada Kamis (2/5/2021) melaporkan tambahan 412.262 kasus infeksi baru harian virus Covid-19. Ini merupakan terbaru dari sebelumnya terjadi pada Sabtu (1/5) dengan 401.993 kasus baru.

Dengan angka di atas, jumlah kasus Covid-19 di negara itu mencapai 21,1 juta kasus. Sementara itu angka kematian akibat Covid-19 di negara itu juga meningkat sebanyak 3.980 kasus dalam 24 jam terakhir. Ini menambah kekhawatiran global mengenai skala penyebaran virus corona baru ini yang cukup mematikan.

Meski begitu, sebagian analis bahkan masih memperdebatkan jumlah asli infeksi Covid-19 mengingat virus itu telah mencapai pelosok-pelosok negeri yang memiliki kesulitan akses ke alat testing dan trancing virus itu. Bahkan ada yang mengatakan bahwa jumlah sebenarnya dari kematian dan terinfeksi bisa lima hingga 10 kali lebih tinggi.


"Situasi menjadi berbahaya di desa-desa," kata Suresh Kumar, koordinator lapangan Manav Sansadhan Evam Mahila Vikas Sansthan, sebuah badan amal hak asasi manusia.

Kekhawatiran ini juga diiringi oleh masalah menipisnya jumlah oksigen masih terus menggema di seluruh penjuru negeri. Banyak orang meninggal di ambulans dan tempat parkir mobil menunggu tempat tidur atau oksigen.

Dua kereta "oksigen ekspres" mencapai ibu kota Delhi pada Rabu membawa oksigen cair yang sangat dibutuhkan, kata Menteri Kereta Api Piyush Goyal di Twitter. Lebih dari 25 kereta sejauh ini telah mengirimkan oksigen ke berbagai bagian India.

Pemerintah India mengatakan ada cukup pasokan oksigen tetapi distribusi terhalang oleh masalah transportasi. Kecukupan ini datang dari bantuan yang diberikan beberapa negara seperti Uni Emirat Arab (UEA), Jerman, Singapura, dan Prancis. Selain itu banyak perusahaan multinasional seperti Amazon dan Google yang juga turut andil dalam distribusi bantuan ini.

Dari segi vaksinasi, infeksi Covid-19 di India nyatanya tidak diimbangi oleh jumlah vaksin yang mencukupi. Dilaporkan bahwa negara yang notabenenya produsen vaksin terbesar dunia itu saat ini defisit vaksin untuk kebutuhan domestiknya.

Adar Poonawalla, kepala eksekutif Serum Institute, mengatakan bahwa kekurangan yang parah di India akan berlanjut "selama berbulan-bulan", mungkin hingga Juli, karena pemerintah Modi belum memesan tepat waktu sehingga mereka tidak meningkatkan kapasitas produksi sebelumnya. .

"Pembuatan vaksin adalah proses khusus. Oleh karena itu, tidak mungkin untuk meningkatkan produksi dalam semalam," ujarnya

Selain itu ia mengklaim bahwa populasi India yang mencapai 1,3 miliar jiwa juga menyulitkan percepatan vaksinasi. Hingga saat ini saja baru 9,4% populasi negara itu yang telah menerima setidaknya satu dosis.

"Kami juga perlu memahami bahwa populasi India sangat besar dan menghasilkan dosis yang cukup untuk semua orang dewasa bukanlah tugas yang mudah."

Pemerintah India secara keseluruhan dianggap gagal dalam menangani pandemi Covid-19 yang menyerang negara itu Bahkan beberapa pihak meminta agar PM Modi untuk mundur. Permintaan ini dilandasi oleh sikap Modi yang terlihat tidak peduli dengan penyebaran Covid-19.

Bahkan pemerintahannya dianggap gagal dalam mengatasi mobilitas publik pada acara tradisi Kumbh Mela di sungai Gangga. Di saat pandemi yang masih meluas di negara itu, tradisi ini masih tetap saja terjadi dengan mengumpulkan kerumunan sebanyak 5 juta orang.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading