RI Masih Resesi, Ternyata Pengusaha Tak Kaget Lagi!

News - Ferry Sandi , CNBC Indonesia
05 May 2021 13:10
Suasana Gedung Kementrian di Kawasan Jakarta, Rabu 7/8. Pemindahan ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari Jakarta ke salah satu lokasi di Kalimantan membutuhkan anggaran yang tidak sedikit, mencapai Rp 466 triliun. Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan Salah satu komponen utama pendanaan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). 
Potensinya sangat kasar. Pemetaan potensi aset di Medan Merdeka, Kuningan, Sudirman, dan Thamrin perkiraan Rp 150 triliun. Ini bisa menambal kebutuhan APBN. Tadinya dari APBN butuh Rp 93 triliun. Artinya dengan Rp 150 triliun bisa menutup untuk bangun istana, pangkalan TNI, dan kebutuhan rumah dinas. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Ilustrasi Gedung Perkantoran di Jakarta (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonomi Indonesia masih berada dalam jurang resesi pada kuartal I-2021. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi tanah air -0,74% secara year on year (yoy) dan -0,96% qtq.

Pengusaha sudah memperkirakan sebelumnya sehingga tak kaget lagi, karena harapan justru akan berada di kuartal II-2021. Namun, ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian.

"Yang jadi proyeksi, konsumsi tiga minggu ke depan naik karena sehubungan Ramadhan dan Lebaran untuk kuartal II. Tapi setelah Ramadhan akan tutup triwulan II kita, apa nanti Juni stagnan? itu PR pemerintah untuk memberi stimulus sesungguhnya," kata Wakil Komite Tetap Industri Hulu dan Petrokimia Kadin Indonesia, Achmad Widjaja kepada CNBC Indonesia, Rabu (5/5/21).


Arah pertumbuhan positif memang lebih banyak mendapat topangan di akhir April hingga Mei. Daya konsumsi yang tinggi menjadi penyebab ekonomi bisa berjalan lebih baik, Achmad Widjaja bahkan menilai pertumbuhan di bulan ini bakal lebih tinggi jika dibandingkan bulan-bulan lainnya

"Kalo bulan Mei pasti bagus nggak akan inflasi karena spending naik orang naik bus pulang kampung juga kegiatan ekonomi. Kalau Mei bisa positif 1,2% juga dapat karena konsumsi tinggi," sebut AW yang juga Komisaris Utama PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSA) itu.

Pertumbuhan positif itu seharusnya bisa terjadi bukan hanya di bulan Mei, namun juga bulan lainnya. Namun, syaratnya harus bisa terpenuhi.

"Kalo stimulus jalan, kemudian industri mendapat kepastian dengan tidak adanya peraturan-peraturan baru yang menimbulkan ketidakpastian. Produsen, dunia usaha hanya fokus capai efisiensi maka tidak akan negatif," sebut AW.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading